ILMU
PENGETAHUAN
Oleh
Hida Tazkiatul
Muktafa
(1144030034)
E-Mail : hida.tazkiatul@student.uinsgd.ac.id
A.
Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu memahami definisi ilmu pengetahuan, ciri-ciri, serta
mengetahui keragaman dalam pengelompokan ilmu pengetahuan, susunannya, dan wujud dari ilmu itu sendiri.
B.
Materi
1.
Definisi Ilmu Pengetahuan.
Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris sciene, yang
berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang
berarti mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu
mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematis
yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi
tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti
oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu.
dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu sesuatu yang
didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun peristiwa.
Pengetahuan, yang dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan knowledge,
menurut Jujun S. , pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui
tentang suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu
merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping
berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Ilmu, menurut pendapat di
atas, menunjuk pada terminologi yang bersifat khusus, yang merupakan bagian
dari pengetahuan.[1]
Pengertian ilmu dan perbedaannya dengan pengetahuan Nampak lebih
jelas sebagaimana dinyatakan oleh Ketut Rinjin. Menurut Rinjin, ilmu merupakan
keseluruhan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan logis dan bukanlah
sekadar kumpulan fakta, tetapi pengetahuan yang
mempersyaratkan objek, metoda, teori, hukum, atau prinsip.[2]
Ilmu, yang dalam bahasa Inggris dinyatkan dengan science,
bukan sekadar kumpulan fakta, meskipun di dalamnya juga terdapat berbagai
fakta. Selain fakta, di dalam ilmu juga terdapat teori, hukum, prinsip, dst.,
yang diperoleh melalui prosedur tertentu yaitu metoda ilmiah. Jadi ilmu
merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metoda ilmiah. Sedangkan
pengetahuan dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu pengalaman, intuisi,
pendapat otoritas, penemuan secara kebetulan dan coba-coba (trial and error)
maupun penalaran.[3]
The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) memberikan pengertian
ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode
untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam
berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan
berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Berikut adalah pengertian ilmu pengetahuan menurut para ahli :
a.
Minto
Rahayu : Pengetahuan (Knowledge) yang sudah disusun dengan sistematis
dan berlaku secara umum.
b.
Thomas
Khun : Suatu himpunan kegiatan/aktivitas yang banyak mendapatkan atau
menghasilkan penemuan, baik dalam bentuk pengembangan ataupun penolakannya.[4]
c.
Van
Puersen : Pengetahuan yang telah terorganisasi, dengan metode dan system
berusaha mencari hubungan-hubungan tetap diantara gejala-gejela.
d.
Dr.
Maurice Bucaille : Kunci agar dapat mengumgkapkan berbagai hal, baik dalam
jangka waktu sebentar maupun jangka waktu yang lama.
e.
Mulyadi
Kartanegara : Ilmu pengetahuan secara bahasa adalah science berarti
“fakta atau keadaan” sering diambil dan mengetahui dalam makna pengetahuan
(knowledge) yang kontras kepada kepercayaan dan intuisi.[5]
Menurut Suhartono (2008) secara terminologis ilmu dan science punya
pengertian yang sama, yaitu pengetahuan. Ilmu berasal dari bahasa Arab, alima,
yang berarti tahu. Sementara dari bahasa Latin, berasal dari kata scio,
scire yang artinya tahu. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis,
suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu
dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya
dapat diamati oleh panca indera.[6]
Pengetahuan yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan
apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi
pengetahuannya yaitu selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan diketahui
serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu,
pengetahuan selalu menuntut adanya subjek dan objek yang merupakan sesuatu yang
dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya.[7]
Jadi, bisa dikatakan pengetahuan yaitu hasil tahu manusia terhadap
sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang
dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek. Pengetahuan
juga merupakan sesuatu yang ada secara niscaya pada diri manusia. Keberadaannya
diawali dari kecenderungan psikis manusia sebagai bawaan kodrat manusia, yaitu
dorongan ingin tahu yang bersumber dari kehendak atau kemauan. Adapun
pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi merupakan pengetahuan yang
didapatkan melalui proses penalaran tertentu.
Ilmu dan pengetahuan berkaitan erat dengan penalaran manusia, yang
mana kemampuan penalaran menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan
yang merupakan rahasia kekuatan manusia itu sendiri. Hakikat penalaran
merupakan suatu proses berfikir dan bukan karena perasaan, meskipun demikian
hati pun mempunyai logika sendiri.
2.
Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan.
Ciri persoalan pengetahuan ilmiah antara lain adalah persoalan
dalam ilmu itu penting untuk segera dipecahkan dengan maksud untuk memperoleh
jawaban. Dengan memiliki persoalan keilmuwan pada dasarnya masalah yang
terkandung dalam ilmu adalah selalu harus merupakan suatu problema yang telah
diketahui atau yang ingin diketahuinya, kemudian ada suatu penelaahan dan
penelitian agar dapat diperoleh kejelasan dengan mengunakan metode yang relevan
untuk mencapai kebenaran yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.[8]
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie
(1987) (dalam Surajiyo, 2010) mempunyai lima ciri pokok antara lain:
1.
Empiris,
pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2.
Sistematis,
berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu
mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
3.
Objektif,
ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan
pribadi;
4.
Analitis,
pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala bagian yang
terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari
bagian-bagian itu;
5.
Verifikatif,
dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.
Adapun Van Melsen (1985) (dalam Surajiyo, 2010) mengemukakan ada
delapan ciri yang menandai ilmu, yaitu sebgai berikut:
1.
Ilmu
pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis
koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus
(susunan logis).
2.
Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu
erat kaitannya dengan tangung jawab ilmuwan.
3.
Universal
ilmu pengetahuan.
4.
Objektivitas,
artinya setiap ilmu terpimpin oleh object dan tidak didistorsi oleh
prasangka-prasangka subjektif.
5.
Ilmu
pengetahuan harus dapat di verifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang
bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6.
Progresivitas,
artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila
mengandung pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi.
7.
Kritis,
artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan
kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8.
Ilmu
pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori
dengan praktis.[9]
Ilmu sebagai pengetahuan ilmiah
berbeda dengan pengetahuan biasa, memiliki ciri tersendiri diantara ciri yang
dimiliki oleh ilmu pengetahuan seperti dikemukakan Konrad Kebung (2011)[10],
yaitu :
1.
Sistematis.
Para filsuf dan ilmuwan sepaham bahwa ilmu adalah pengetahuan atau
kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Ciri sistematis ilmu
menunjukan bahwa ilmu merupakan berbagai keterangan dan data yang tersusun
sebagai kumpulan pengetahuan tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan
yang teratur (pertalian tertib). Pertalian tertib dimaksud disebabkan adanya
suatu asas tata tertib tertentu diantara bagian-bagian yang merupakan pokok
soalnya.
2.
Empiris.
Bahwa ilmu mengandung pengetahuan yang diperoleh berdasarkan
pengamatan serta percobaan secara terstruktur di dalam bentuk pengalaman, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Ilmu mengamati, menganalisis, menalar, membuktikan, dan
menyimpulkan hal-hal empiris yang bersifat faktawi (factual), baik berupa
gejala maupun kebatinan, gejala kejiawaan, gejala kemasyarakatan, dan
sebagainya. Semua hal fakta yang dimaksud dihimpun dan dicatat sebagai data (datum)
sebagai bahan persediaan bagi ilmu.
Ilmu dalam hal ini bukan sekedar fakta, melainkan fakta yang
diamati dalam suatu aktifitas ilmiah melalui pengalaman. Fakta bukan pula data,
berbeda dengan fakta, data lebih merupakan berbagai keterangan mengenai sesuatu
hal yang diperoleh melalui hasil pencerapan atau sendasi derawi.
3.
Objektif.
Bahwa ilmu menunjukan pada bentuk pengetahuan yang bebas dari
prasangka perorangan (personal biasa), dan perasaan subjektif berupa kesukaan
atau kebencian probadi. Ilmu haruslah hanya mengandung pernyataan serta data
yang menggambarkan secara terus terang atau mencerminkan secara tepat gejala
yang di telaahnya.
Objektifitas ilmu mensyaratkan bahwa kumpulan pengetahuan itu
haruslah sesuai dengan objeknya (baik objek material maupun omjek formalnya),
tanpa di serong oleh keinginan dan kecondongan subjektif dari penelaahnya.
4.
Analitis.
Bahwa ilmu berusaha mencermati, mendalami, dan membedakan soalnya
ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan,
dan peranan dari bagian-bagian tersebut. Upaya pemilihan atau penguraian suatu
kebulatan pokok soal ke dalam bagian-bagian, membuat suatu bidang keilmuan
senantiasa tersekat dalam yang lebih sempit sasarannya.
Melalui itu, masing-masing cabang ilmu itu membentuk aliran
pemikiran keilmuan baru yang berupa ranting-ranting keilmuan yang terus
dikembangkan secara khusus menuju spesialisasi ilmu.
5.
Verifikatif.
Bahwa ilmu mengandung kebenaran yang terbuka untuk diperiksa untuk
diperiksa atau diuji (diverifikasi) guna dapat dinyatakan sah (valid) dan
disampaikan kepada orang lain. Kemungkinan diperiksa kebenaran (verifikasi)
dimaksudlah yang menjadi ciri pokok ilmu yang terakhir.
Pengetahuan, agar dapat diakui kebenarannya sebagai ilmu, harus
terbuka untuk diuji atau diverifikasi dari berbagai sudut telaah yang berlainan
dan akhirnya diakui benar. Ciri verifikasi ilmu sekaligus mengandung pengertian
bahwa ilmu senantiasa mengarah kepada tercapainya kebenaran. Ilmu dikembangkan
oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia yang
disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini dapat berupa asas-asas atau kaidah yang
berlaku umum atau universal mengenai pokok keilmuan yang bersangkutan.
Melalui itu, manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa
mendatang dan menerangkan atau menguasai alam sekelilingnya. Contohnya, sebelum
ada ilmu maka orang sulit mengerti dan meramalkan serta menguasai gejala atau
peristiwa-peristiwa alam, seperti hujan, banjir, dan gunung meletus. Oleh
karena itu, lari kepada takhayul atau mitos yang ghaib.
Namun demikian, setelah adanya ilmu, seperti vulkanologi, geografi,
fisis, dan kimia, maka dapat menjelaskan secara tepat dan cermat bermacam-macam
peristiwa tersebut serta meramalkan hal-hal yang akan terjadi kemudian, dan
dengan demikian dapat menguasainya untuk kemanfaatan diri atau lingkungannya.
Berdasarkan kenyataan itulah, orang cenderung mengartikan ilmu sebagai
seperangkat pengetahuan yang teratur dan telah disahkan secara baik, yang
dirumuskan untuk maksud menemukan kebenaran umum, serta tujuan penguasaan,
dalam arti menguasai kebenaran ilmu demi kepentingan pribadi atau masyarakan,
dan alam lingkungan.
Selain kelima ciri ilmu di atas, masih terdapat beberapa ciri
tambahan lainnya, misalnya ciri instrumental dan ciri factual. Ciri
instrumental, dimaksudkan bahwa ilmu merupakan alat atau sarana tindakan untuk
melakukan sesuatu hal. Ilmu dalam hal ini sukar, namun juga sangat mudah, dalam
arti senantiasa merupakan sarana tindakan untuk melakukan banyak hal yang
mengagumkan dan membanjiri dunia dengan ide-ide baru. Ilmu berciri factual,
dalam arti ilmu tidak memberikan penilaian baik atau buruk terhadap apa yang
ditelaahnya, tetapi hanya menyediakan fakta atau data bagi si pengguna.
Pandangan terakhir ini, oleh filsuf kritis telah diolah, karena menurut mereka
ilmu sebagai suatu hasil budaya manusia, selalu bertautan atau berhubungan
dengan nilai. Ilmu, karenanya tidak dapat membebaskan atau meluputkan diri dari
nilai dan sesalu harus bertanggung jawab atasnya.[11]
3.
Keragaman dalam Pengelompokan Ilmu Pengetahuan.
Kumpulan
pernyataan ilmuan mengenai suatu objek yang memuat pengetahuan ilmiah oleh The
Liang Gie (2000) mempunyai 4 bentuk :
a.
Deskripsi
Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak deskriptif dengan
memberikan mengenai bentuk , susunan, peranan, dan hal-hal terperinci lainnya
dari fenomena yang bersangkutan.
b.
Preskripsi
Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak preskriptif dengan
memberikan petunjuk atau ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung
atau sebaiknya dilakukan dalam
hubungannya dengan objek sederhana itu.
c.
Eksposisi
pola.
Bentuk ini merangkum pernyataan yang memaparkan pola dalam
sekumpulan sifat, ciri, kecenderungan, atau proses lainnya dari fenomena yang
ditelaah.
d.
Rekonstruksi
histpris
Bentuk ini merangkum pernyataan yang berusaha menggambarkan atau
menceritakan dengan penjelasan atau alasan yang diperlukan pertumbuhan sesuatu
hal pada masa lampau yang jauh baik secara ilmiah atau karena campur tangan
manusia[12]
4.
Jenis Pengetahuan
Menurut Tim
Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta (dalam Surajiyo,
2010) ada empat jenis pengetahuan,
yakni:
a.
Pengetahuan
biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan common sense, dan
sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu
dimana orang itu menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu biru
karena memang itu biru, dan juga benda itu dingin karena memang dirasakan
dingin, dan sebagainya.
b.
Pengetahuan
ilmiah, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian
yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secar objektif, tujuannya untuk
menggambarkan dan memberi makana terhadap dunia factual.
c.
Pengetahuan
Filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pemikiran. Pengetahuan
filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang
sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid,
filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya
memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis.
d.
Pengetahuan
Agama, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan lewat Rasul-Nya. Pengetahuan
agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan
ini mengandung hal-hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan
Tuhan dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Dan yang lebih penting dari
pengetahuan ini disamping informasi tentang Tuhan, juga informasi tentang hari
Akhir.
5.
Susunan Ilmu Pengetahuan.
Langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan :
a.
Perumusan
Masalah.
Setiap penyelidikan ilmiah dimulai dengan masalah yang dirumuskan
secara tepat dan jelas dealam bentuk pertanyaan agar imuan mempunyai jalan
untuk mengetahui fakta-fakta apa saja yang harus dikumpulkan.
b.
Pengamatan
dan Pengumpulan Data atau Observasi.
Penyelidikan ilmiah dalam tahap II mempunyai corak empiris dan
induktif dimana seluruh kegiatan diarahkan pada pengumpulan data dengan melalui
pengamatan yang cermat sambil didukung oleh berbagai sarana yang canggih. Hasil
observasi ini kemudian dituangkan dalam bentuk pernyataan.
c.
Pengamatan
dan Klasifikasi Data.
Dalam tahap ini ditekankan penyusulan fakta-fakta dalam kelompok,
jenis dan kelas tertentu berdasarkan sifat yang sama. Kegiatan inilah yang
disebut klasifikasi, menganalisis, membandingkan dan membeda-bedakan data yang
relevan.
d.
Perumusan
Pengetahuan (definisi).
Dalam tahap ini, ilmuan mengadakan analisis dan sintesis secara
induktif. Lewat analisis dan sintensis ilmuan mengadakan generalisasi
(kesimpulan umum). Generalisasi merupakan pengetahuan umum yang dituangkan
dalam pernyataan umum atau universal. Dari sinilah teori terbentuk.
e.
Tahap
Peramalan (Prediksi).
Dalam tahap ini, deduksi mulai memainkan peranan. Disini ada teori
yang sudah terbentuk tadi, diturunkan hipotesis baru dari hipotesis ini, lewat deduksi
pula, ilmuan mulai menyusun implikasi logis agar mengadakan ramalan-ramalan
tentang gejala yang perlu diketahui atau yang masih terjadi. Deduksi ini selalu
dirumuskan dalam bentuk silogisme.
f.
Pengujian
Kebenaran Hipotesis (Verifikasi).
Dalam tahap ini dilakukan pengujian kebenaran hipotesis dan itu
artinya menguji kebenaran ramalan-ramalan tadi melalui pengamatan atau
observasi terhadap fakta yang sebenarnya atau percobaan-percobaan. Dalam hal
ini keputusan terletak pada fakta. Jika fakta tidak mendukung hipotesis, maka
hipotesis itu harus dibongkar dan diganti dengan hipotesis lain dan seluruh
kegiatan ilmiah harus dimulai lagi dari permulaan/ itu berari data empiris
merupakan penentu bagi baner tidaknya hipotesis. Dengan demikian langkah
terakhir dari seluruh kegiatan ilmiah adalah pengujian kebenaran ilmiah dan itu
artinya menguji konsekuensi-konsekuensi yang telah dijabarkan secara deduktif.[13]
6.
Persyaratan Ilmu Pengetahuan
Demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus bekerja dengan cara ilmiah.
Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat yang
intinya adalah:
a.
Ilmu
harus menpunyai objek, ini berarti bahwa kebenaran yang hendak diungkapkan dan
dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya. Dengan kata lain,
suatu ilmu harus bersifat menyeluruh dan tidak hanya dapat dilihat dari satu
sudut pandang saja. Suatu ilmu seharusnya memilki objek kajian yang masih
berkaitan dengan ilmu itu sendiri. Ilmu tersebut haruslah sesuai dengan
kenyataan, bukan hanya sebuah pemikiran yang belum dapat dipastikan
b.
Ilmu
harus mempunyai metode, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran yang
objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi. Dapat dikatakan
sebagai ilmu jika sudah terbukti benar. Tidak hanya oleh satu orang, melainkan
juga dapat dibuktikan oleh semua orang. Dan dapat diulang dengan hasil yang
sama. Contoh ; segitiga memiliki sudut 180ᵒ.
c.
Ilmu
harus sistematik, ini berarti bahwa dalam memberikan pengalaman, objeknya
dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang teratur. Artinya
mempunyai keteraturan dalam dirinya sehingga membentuk suatu system yang utuh,
sehingga dapat menjelaskan hal-hal yang menyangkut objek kajiannya dan juga
hubungan sebab-akibatnya.
d.
Ilmu
bersifat universal, yaitu kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak mengenai
sesuatu yang bersifat khusus, melainkan kebenaran berlaku umum.
e.
Empirik.
Ilmu adalah sesuatu yang konkrit (dapat dirasakan keberadaan/objeknya). Ini
berarti, segala hal yang tidak dapat kita rasakan secara konkrit tidak termasuk
dalam scientific study. Contohnya seperti tauhid berkenaan dengan
hal-hal yang gaib (tidak tampak). [14]
7.
Wujud Ilmu
The Liang Gie menyebut tiga wujud ilmu, yaitu ilmu sebagai proses,
ilmu sebagai prosedur, dan ilmu sebagai produk. Proses berarti aktivitas penelitian,
prosedur berarti metode ilmiah, sedangkan prodeuk berarti pengetahuan
sistematis. Jadi, sebagai proses, psikologi menampakkan diri sebagai aktivitas
penelitian. Sebagai prosedur, psikologi meneliti dengan menggunakan metode
ilmiah, dan sebagai prodeuk, psikologi merupakan bangunan pengetahuan yang
sistematis. Ketiga wujud ilmu di atas dapat disebut juga sebagai aspek-aspek
ilmu. Ketiga pengertian itu berkaitan secara logis. Aktivitas ilmiah hanya
terdapat di kelompok manusia khusus (yaitu ilmuwan). Sebab aktivitas ilmiah
hanya dilakukan dengan rasio. Karena hanya manusia memiliki rasio, maka
kegiatan ilmiah pun hanya terdapat dalam masyarakat manusia (khususnya
ilmuwan). Hampir sebagian besar pembahasan tentang wujud ilmu di bawah ini
mengacu kepada buku The Liang Gie dalam bukunya Filsafat Ilmu.
a.
Ilmu
sebagai Proses
Ilmu sebagai proses berarti ilmu merupakan aktivitas penelitian.
Para pelakunya disebut ilmuwan (scientist). Aktivitas yang dilakukan
tidak bersifat tunggal, melainkan jamak. Ada rangkaian aktivitas penelitian yang
bersifat rasional, kognitif, dan teologis.
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang menggunakan rasio. Yang
terjadi adalah kegiatan penalaran logis atas pengamatan empiris. Aktifitas
kognitif berarti kegiatan yang bertalian dengan proses tahu dan pengetahuan.
Dengan proses kognitif (pengenalan, penerapan, konsepsi, dan penalaran) manusia
mengetahui sesuatu. Aktivitas teologis (dari bahasa Yunani telos =
tujuan) berarti kegiatan yang mengarah kepada tujuan tertentu. Jadi, ilmu adalah
aktifitas yang mempunyai tujuan. The Liang Gie memberikan daftar tujuan yang
ingin dicapai seorang ilmuwan lewat kegiatan ilmiah sebagai berikut :
-
Pengetahuan
(knowledge)
-
Kebenaran
(truth)
-
Pemahaman
(understanding, comprehension, insight)
-
Penjelasan
(explanation)
-
Peramalan
(prediction)
-
Pengendalian
(control)
-
Penerapan
(application, invention, production)
Karena aspek inilah, sering kita temukan definisi dari ilmuwan
sebagai orang yang melakukan penelitian ilmiah. Seperti dikutip The Liang Gie,
arti ini diberikan dalam The International Encyclopedia of Higher Education (scientist
is a person eho engagers in scientific research). Tetapi ini bukan definisi
yang lengkap, hanya karena menggambarkan satu aspek dari ilmu dan kegiatan ilmu.
Batasan yang lengkap harus mencakup pada dua aspek lain yang disebut di atas,
yakni ilmu sebagai prosedur dan produk.
b.
Ilmu
sebagai Prosedur
Ilmu sebagai prosedur berarti ilmu merupakan kegiatan penelitian
yang menggunakan metode ilmiah. Menurut The World of Science Encyclopedia, metode
ilmiah ialah prosedur yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari sistematis
pengetahuan baru dan peninjauan kembali pengetahuan yang ada.
Dapat disimpulkan bahwa metode ilmiah pada umumnya menyangkut empat
hal yakni : pola procedural, tata langkah, teknik-teknik, dan alat-alat.
Unsur yang termasuk dalam pola procedural ialah pengamatan,
percobaan, pengukuran, survey, deduksi, induksi, dan analisa. Unsur yang
termasuk dalam tata langkah ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis,
pengumpulan data, kesimpulan, dan pengujian hasil. Unsur yang termasuk dalam
teknik-teknik antara lain questionnaire, wawancara, perhitungan, dan
pemanasan. Alat-alat yang digunakan antara lain timbangan, meteran, perapian,
computer.
c.
Ilmu
sebagai Produk
Pengertian inilah yang paling sering digunakan. Dalam arti ketiga
ini, ilmu merupakan kumpulan pengetahuan sistematis yang merupakan produk dari
aktivitas penelitian dngan metode ilmiah.
Sebagai system pengetahuan, ilmu mempunyai objek material dan objek
formal. Objek material sering disebut pokok soal (subject matter),
sedangkan objek material dinamakan titik perhatian focus of interest)
atau sikap pikiran (attitude of mind). Lebih lazim, objek formal
dinamakan sudut pandang.
Sebagai system pengetahuan atau pengetahuan sistematis, ilmu
memiliki ciri-ciri empiris, sistematis, obyektif, analitis, dan varifikatif.
Ciri empiris mengandalkan pengamatan (observasi) atau percobaan (eksperimen).
Ilmu berbeda dari pengetahuan karena ciri sistematis, dan berbeda dari filsafat
karena ciri empirisnya.
Ciri sistematis berarti bahwa kumpulan pengetahuan-pengetahuan itu
memiliki hubungan-hubungan ketergantungan dan teratur. Ciri objektif ilmu
berarti bahwa pengetahuan ilmiah bebas dari prasangka perseorangan (personal
bias) dan pamrih pribadi. Ilmu harus berisi data yang menggambarkan secara
tepat gejala-gejala.
Ilmu berciri analisis artinya ilmu melakukan pemilihan-pemilihan
atas pokok soal ke dalam bagian-bagian untuk mengetahui sifat dan hubungan
bagian-bagian tersebut. Ciri verifikatif ilmu berarti bahwa tujuan yang ingin
dicapai ilmu ialah kebenaran ilmiah. Kebenaran ini dapat berupa kaidah-kaidah
atau azas-azas yang universal. Dengan demikian, manusia dapat membuat ramalan
dan mengasai alam.[15]
C.
Rangkuman
Ilmu berasal
dari bahasa Arab, alima, yang berarti tahu. Sementara dari bahasa Latin,
berasal dari kata scio, scire yang artinya tahu. Ilmu adalah akumulasi
pengetahuan yang sistematis, suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap
seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu,
dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera.
Pengetahuan
yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal
tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya yaitu selalu terdiri
atas unsur yang mengetahui dan diketahui serta kesadaran mengenai hal yang
ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut adanya
subjek dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin
diketahuinya.
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie
(1987) (dalam Surajiyo, 2010) mempunyai lima ciri pokok antara lain:
1.
Empiris,
pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2.
Sistematis,
berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu
mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
3.
Objektif,
ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan
pribadi;
4.
Analitis,
pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala bagian yang
terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari
bagian-bagian itu;
5.
Verifikatif,
dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.
Kumpulan
pernyataan ilmuan mengenai suatu objek yang memuat pengetahuan ilmiah oleh The
Liang Gie (2000) mempunyai 4 bentuk :
a.
Deskripsi
b.
Preskripsi
c.
Eksposisi
pola.
d.
Rekonstruksi
histpris
Langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan :
a.
Perumusan
Masalah.
b.
Pengamatan
dan Pengumpulan Data atau Observasi.
c.
Pengamatan
dan Klasifikasi Data.
d.
Perumusan
Pengetahuan (definisi).
e.
Tahap
Peramalan (Prediksi).
f.
Pengujian
Kebenaran Hipotesis (Verifikasi).
Demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus bekerja dengan cara ilmiah.
Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat yang
intinya adalah:
a.
Ilmu
harus menpunyai objek,
b.
Ilmu
harus mempunyai metode.
c.
Ilmu
harus sistematik
d.
Ilmu
bersifat universal,
e.
Empirik.
The
Liang Gie menyebut tiga wujud ilmu, yaitu ilmu sebagai proses, ilmu sebagai
prosedur, dan ilmu sebagai produk. Proses berarti aktivitas penelitian,
prosedur berarti metode ilmiah, sedangkan prodeuk berarti pengetahuan
sistematis. Jadi, sebagai proses, psikologi menampakkan diri sebagai aktivitas
penelitian. Sebagai prosedur, psikologi meneliti dengan menggunakan metode
ilmiah, dan sebagai prodeuk, psikologi merupakan bangunan pengetahuan yang
sistematis
D.
Buku Rujukan
1.
Gie,
The Liang. (1991) Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty.
2.
Gie,
The Liang, 2000, Administrasi Perkantoran Modern, Yogyakarta : Liberty.
3.
Hamami
M, Abbas, 2003, Kebenaran ilmiah, dalam : Filsafat Ilmu Sebagai Dasar
Pengembangan Pengetahuan, Tim Dosen Filasafat Ilmu, Yogyakarta : Fakultas
Filsafat Universitas Gajah Mada, Penerbit Liberty.
4.
Kartanegara,
Mulyadi, 2006, Gerbang Kearifan : Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Jakarta
: Penerbit Lentera Hati.
5.
Kasmadi,
Hartono,dkk, 1990,Filsafat Ilmu, Semarang: IKIP Semarang Press.
6.
Kebung,
Konrad, 2011, Filsafat Imu Pengetahuan, Jakarta : Prestasi Pustakaraya.
7.
Khun,
Thonas, 1996, The Structure of Scientific Revolutions, Chicago : The
University of Chicago Press.
8.
Latif,
Mukhtar, Orientasi ke Arah Pemahaman : Filsafat Ilmu, 2014, Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP.
9.
Peursen,
Van, Mooji, Kwee, Beerling, 1998, Pengantar Filasafat Ilmu, Yogyakarta :
PT.Tiara Wacana Yogya.
10. Rinji, Ketut. 1997, Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial
Dasar, Bandung : CV Banyumas.
11. Suhartono, 2008, Metode Penelitian Deskriptif¸ Yogyakarya :
Mandiri Prima.
12. Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia.
Jakarta: Bumi Aksara.
13. Suriasumantri, Jujun S , 2005, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar
Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
E.
Latihan
1.
Apa
yang dinamakan dengan ilmu dan pengetahuan
?
2.
Bagaimana
ciri-ciri ilmu pengetahuan ?
3.
Apa
saja syarat-syarat ilmu pengetahuan ? jelaskan !
4.
Sebutkan
susunan ilmu pengetahuan ? jelaskan !
5.
Apa
wujud sebuah ilmu ?
[1] Jujun S
Suriasumantri, 2005, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan), hlm 104.
[2] Ketut Rinjin.
1997, Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar, (Bandung : CV
Banyumas), hlm 57-58.
[3] Jujun S
Suriasumantri, Ibid., hlm 119.
[4] Thonas Khun,
1996, The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago : The University
of Chicago Press), hlm 99.
[5] Mulyadi
Kartanegara, 2006, Gerbang Kearifan : Sebuah Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta
: Penerbit Lentera Hati), hlm 177.
[6] Suhartono,
2008, Metode Penelitian Deskriptif¸(Yogyakarya : Mandiri Prima), hlm 43.
[7] Mukhtar Latif,
Orientasi ke Arah Pemahaman : Filsafat Ilmu, 2014, (Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP) hlm 69.
[8] Abbas Hamami
M, 2003, Kebenaran ilmiah, dalam : Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan
Pengetahuan, Tim Dosen Filasafat Ilmu, (Yogyakarta : Fakultas Filsafat
Universitas Gajah Mada, Penerbit Liberty) hlm 92.
[9] Surajiyo.
2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. (Jakarta: Bumi
Aksara), hal 67-68.
[10] Konrad Kebung,
2011, Filsafat Imu Pengetahuan, (Jakarta : Prestasi Pustakaraya), hlm
43.
[11] Mukhtar Latif,
Ibid., hal 92.
[12] The Liang Gie,
2000, Administrasi Perkantoran Modern,(Yogyakarta : Liberty), hlm 41.
[13] Van Peursen,
Mooji, Kwee, Beerling, 1998, Pengantar Filasafat Ilmu, (Yogyakarta :
PT.Tiara Wacana Yogya), hlm 88.
[14] Hartono Kasmadi,dkk, 1990,Filsafat Ilmu, (Semarang: IKIP
Semarang Pres), hlm 8-9.
[15] The Liang Gie.
(1991) Pengantar Filsafat Ilmu. (Yogyakarta : Liberty), hal 130
Tidak ada komentar:
Posting Komentar