Sabtu, 17 Desember 2016

ILMU PENGETAHUAN



ILMU PENGETAHUAN
Oleh
Hida Tazkiatul Muktafa
(1144030034)

A.    Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu memahami definisi ilmu pengetahuan, ciri-ciri, serta mengetahui keragaman dalam pengelompokan ilmu pengetahuan,  susunannya, dan wujud dari ilmu itu sendiri.

B.     Materi
1.      Definisi Ilmu Pengetahuan.
Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris sciene, yang berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu sesuatu yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun peristiwa.
Pengetahuan, yang dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan knowledge, menurut Jujun S. , pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Ilmu, menurut pendapat di atas, menunjuk pada terminologi yang bersifat khusus, yang merupakan bagian dari pengetahuan.[1]
Pengertian ilmu dan perbedaannya dengan pengetahuan Nampak lebih jelas sebagaimana dinyatakan oleh Ketut Rinjin. Menurut Rinjin, ilmu merupakan keseluruhan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan logis dan bukanlah sekadar kumpulan fakta, tetapi pengetahuan yang  mempersyaratkan objek, metoda, teori, hukum, atau prinsip.[2]
Ilmu, yang dalam bahasa Inggris dinyatkan dengan science, bukan sekadar kumpulan fakta, meskipun di dalamnya juga terdapat berbagai fakta. Selain fakta, di dalam ilmu juga terdapat teori, hukum, prinsip, dst., yang diperoleh melalui prosedur tertentu yaitu metoda ilmiah. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metoda ilmiah. Sedangkan pengetahuan dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu pengalaman, intuisi, pendapat otoritas, penemuan secara kebetulan dan coba-coba (trial and error) maupun penalaran.[3]
The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Berikut adalah pengertian ilmu pengetahuan menurut para ahli :
a.       Minto Rahayu : Pengetahuan (Knowledge) yang sudah disusun dengan sistematis dan berlaku secara umum.
b.      Thomas Khun : Suatu himpunan kegiatan/aktivitas yang banyak mendapatkan atau menghasilkan penemuan, baik dalam bentuk pengembangan ataupun penolakannya.[4]
c.       Van Puersen : Pengetahuan yang telah terorganisasi, dengan metode dan system berusaha mencari hubungan-hubungan tetap diantara gejala-gejela.
d.      Dr. Maurice Bucaille : Kunci agar dapat mengumgkapkan berbagai hal, baik dalam jangka waktu sebentar maupun jangka waktu yang lama.
e.       Mulyadi Kartanegara : Ilmu pengetahuan secara bahasa adalah science berarti “fakta atau keadaan” sering diambil dan mengetahui dalam makna pengetahuan (knowledge) yang kontras kepada kepercayaan dan intuisi.[5]
Menurut Suhartono (2008) secara terminologis ilmu dan science punya pengertian yang sama, yaitu pengetahuan. Ilmu berasal dari bahasa Arab, alima, yang berarti tahu. Sementara dari bahasa Latin, berasal dari kata scio, scire yang artinya tahu. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis, suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera.[6]
Pengetahuan yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya yaitu selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut adanya subjek dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya.[7]
Jadi, bisa dikatakan pengetahuan yaitu hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek. Pengetahuan juga merupakan sesuatu yang ada secara niscaya pada diri manusia. Keberadaannya diawali dari kecenderungan psikis manusia sebagai bawaan kodrat manusia, yaitu dorongan ingin tahu yang bersumber dari kehendak atau kemauan. Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui proses penalaran tertentu.
Ilmu dan pengetahuan berkaitan erat dengan penalaran manusia, yang mana kemampuan penalaran menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuatan manusia itu sendiri. Hakikat penalaran merupakan suatu proses berfikir dan bukan karena perasaan, meskipun demikian hati pun mempunyai logika sendiri.

2.      Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan.
Ciri persoalan pengetahuan ilmiah antara lain adalah persoalan dalam ilmu itu penting untuk segera dipecahkan dengan maksud untuk memperoleh jawaban. Dengan memiliki persoalan keilmuwan pada dasarnya masalah yang terkandung dalam ilmu adalah selalu harus merupakan suatu problema yang telah diketahui atau yang ingin diketahuinya, kemudian ada suatu penelaahan dan penelitian agar dapat diperoleh kejelasan dengan mengunakan metode yang relevan untuk mencapai kebenaran yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.[8]
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) mempunyai lima ciri pokok antara lain:
1.      Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2.      Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
3.      Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi;
4.      Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu;
5.      Verifikatif, dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.
Adapun Van Melsen (1985) (dalam Surajiyo, 2010) mengemukakan ada delapan ciri yang menandai ilmu, yaitu sebgai berikut:
1.      Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus (susunan logis).
2.       Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tangung jawab ilmuwan.
3.      Universal ilmu pengetahuan.
4.      Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh object dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif.
5.      Ilmu pengetahuan harus dapat di verifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6.      Progresivitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi.
7.      Kritis, artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8.      Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.[9]
Ilmu sebagai pengetahuan ilmiah berbeda dengan pengetahuan biasa, memiliki ciri tersendiri diantara ciri yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan seperti dikemukakan Konrad Kebung (2011)[10], yaitu :
1.      Sistematis.
Para filsuf dan ilmuwan sepaham bahwa ilmu adalah pengetahuan atau kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Ciri sistematis ilmu menunjukan bahwa ilmu merupakan berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan yang teratur (pertalian tertib). Pertalian tertib dimaksud disebabkan adanya suatu asas tata tertib tertentu diantara bagian-bagian yang merupakan pokok soalnya.
2.      Empiris.
Bahwa ilmu mengandung pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengamatan serta percobaan secara terstruktur di dalam bentuk pengalaman, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ilmu mengamati, menganalisis, menalar, membuktikan, dan menyimpulkan hal-hal empiris yang bersifat faktawi (factual), baik berupa gejala maupun kebatinan, gejala kejiawaan, gejala kemasyarakatan, dan sebagainya. Semua hal fakta yang dimaksud dihimpun dan dicatat sebagai data (datum) sebagai bahan persediaan bagi ilmu.
Ilmu dalam hal ini bukan sekedar fakta, melainkan fakta yang diamati dalam suatu aktifitas ilmiah melalui pengalaman. Fakta bukan pula data, berbeda dengan fakta, data lebih merupakan berbagai keterangan mengenai sesuatu hal yang diperoleh melalui hasil pencerapan atau sendasi derawi.
3.      Objektif.
Bahwa ilmu menunjukan pada bentuk pengetahuan yang bebas dari prasangka perorangan (personal biasa), dan perasaan subjektif berupa kesukaan atau kebencian probadi. Ilmu haruslah hanya mengandung pernyataan serta data yang menggambarkan secara terus terang atau mencerminkan secara tepat gejala yang di telaahnya.
Objektifitas ilmu mensyaratkan bahwa kumpulan pengetahuan itu haruslah sesuai dengan objeknya (baik objek material maupun omjek formalnya), tanpa di serong oleh keinginan dan kecondongan subjektif dari penelaahnya.
4.      Analitis.
Bahwa ilmu berusaha mencermati, mendalami, dan membedakan soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian tersebut. Upaya pemilihan atau penguraian suatu kebulatan pokok soal ke dalam bagian-bagian, membuat suatu bidang keilmuan senantiasa tersekat dalam yang lebih sempit sasarannya.
Melalui itu, masing-masing cabang ilmu itu membentuk aliran pemikiran keilmuan baru yang berupa ranting-ranting keilmuan yang terus dikembangkan secara khusus menuju spesialisasi ilmu.
5.      Verifikatif.
Bahwa ilmu mengandung kebenaran yang terbuka untuk diperiksa untuk diperiksa atau diuji (diverifikasi) guna dapat dinyatakan sah (valid) dan disampaikan kepada orang lain. Kemungkinan diperiksa kebenaran (verifikasi) dimaksudlah yang menjadi ciri pokok ilmu yang terakhir.
Pengetahuan, agar dapat diakui kebenarannya sebagai ilmu, harus terbuka untuk diuji atau diverifikasi dari berbagai sudut telaah yang berlainan dan akhirnya diakui benar. Ciri verifikasi ilmu sekaligus mengandung pengertian bahwa ilmu senantiasa mengarah kepada tercapainya kebenaran. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia yang disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini dapat berupa asas-asas atau kaidah yang berlaku umum atau universal mengenai pokok keilmuan yang bersangkutan.
Melalui itu, manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa mendatang dan menerangkan atau menguasai alam sekelilingnya. Contohnya, sebelum ada ilmu maka orang sulit mengerti dan meramalkan serta menguasai gejala atau peristiwa-peristiwa alam, seperti hujan, banjir, dan gunung meletus. Oleh karena itu, lari kepada takhayul atau mitos yang ghaib.
Namun demikian, setelah adanya ilmu, seperti vulkanologi, geografi, fisis, dan kimia, maka dapat menjelaskan secara tepat dan cermat bermacam-macam peristiwa tersebut serta meramalkan hal-hal yang akan terjadi kemudian, dan dengan demikian dapat menguasainya untuk kemanfaatan diri atau lingkungannya. Berdasarkan kenyataan itulah, orang cenderung mengartikan ilmu sebagai seperangkat pengetahuan yang teratur dan telah disahkan secara baik, yang dirumuskan untuk maksud menemukan kebenaran umum, serta tujuan penguasaan, dalam arti menguasai kebenaran ilmu demi kepentingan pribadi atau masyarakan, dan alam lingkungan.
Selain kelima ciri ilmu di atas, masih terdapat beberapa ciri tambahan lainnya, misalnya ciri instrumental dan ciri factual. Ciri instrumental, dimaksudkan bahwa ilmu merupakan alat atau sarana tindakan untuk melakukan sesuatu hal. Ilmu dalam hal ini sukar, namun juga sangat mudah, dalam arti senantiasa merupakan sarana tindakan untuk melakukan banyak hal yang mengagumkan dan membanjiri dunia dengan ide-ide baru. Ilmu berciri factual, dalam arti ilmu tidak memberikan penilaian baik atau buruk terhadap apa yang ditelaahnya, tetapi hanya menyediakan fakta atau data bagi si pengguna. Pandangan terakhir ini, oleh filsuf kritis telah diolah, karena menurut mereka ilmu sebagai suatu hasil budaya manusia, selalu bertautan atau berhubungan dengan nilai. Ilmu, karenanya tidak dapat membebaskan atau meluputkan diri dari nilai dan sesalu harus bertanggung jawab atasnya.[11]

3.      Keragaman dalam Pengelompokan Ilmu Pengetahuan.
Kumpulan pernyataan ilmuan mengenai suatu objek yang memuat pengetahuan ilmiah oleh The Liang Gie (2000) mempunyai 4 bentuk :
a.       Deskripsi
Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak deskriptif dengan memberikan mengenai bentuk , susunan, peranan, dan hal-hal terperinci lainnya dari fenomena yang bersangkutan.
b.      Preskripsi
Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak preskriptif dengan memberikan petunjuk atau ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau  sebaiknya dilakukan dalam hubungannya dengan objek sederhana itu.
c.       Eksposisi pola.
Bentuk ini merangkum pernyataan yang memaparkan pola dalam sekumpulan sifat, ciri, kecenderungan, atau proses lainnya dari fenomena yang ditelaah.
d.      Rekonstruksi histpris
Bentuk ini merangkum pernyataan yang berusaha menggambarkan atau menceritakan dengan penjelasan atau alasan yang diperlukan pertumbuhan sesuatu hal pada masa lampau yang jauh baik secara ilmiah atau karena campur tangan manusia[12]

4.      Jenis Pengetahuan
Menurut Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta (dalam Surajiyo,
2010) ada empat jenis pengetahuan, yakni:
a.      Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana orang itu menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu biru karena memang itu biru, dan juga benda itu dingin karena memang dirasakan dingin, dan sebagainya.
b.      Pengetahuan ilmiah, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secar objektif, tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makana terhadap dunia factual.
c.       Pengetahuan Filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pemikiran. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis.
d.      Pengetahuan Agama, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan lewat Rasul-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan ini mengandung hal-hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Dan yang lebih penting dari pengetahuan ini disamping informasi tentang Tuhan, juga informasi tentang hari Akhir.

5.      Susunan Ilmu Pengetahuan.
Langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan :
a.       Perumusan Masalah.
Setiap penyelidikan ilmiah dimulai dengan masalah yang dirumuskan secara tepat dan jelas dealam bentuk pertanyaan agar imuan mempunyai jalan untuk mengetahui fakta-fakta apa saja yang harus dikumpulkan.
b.      Pengamatan dan Pengumpulan Data atau Observasi.
Penyelidikan ilmiah dalam tahap II mempunyai corak empiris dan induktif dimana seluruh kegiatan diarahkan pada pengumpulan data dengan melalui pengamatan yang cermat sambil didukung oleh berbagai sarana yang canggih. Hasil observasi ini kemudian dituangkan dalam bentuk pernyataan.
c.       Pengamatan dan Klasifikasi Data.
Dalam tahap ini ditekankan penyusulan fakta-fakta dalam kelompok, jenis dan kelas tertentu berdasarkan sifat yang sama. Kegiatan inilah yang disebut klasifikasi, menganalisis, membandingkan dan membeda-bedakan data yang relevan.
d.      Perumusan Pengetahuan (definisi).
Dalam tahap ini, ilmuan mengadakan analisis dan sintesis secara induktif. Lewat analisis dan sintensis ilmuan mengadakan generalisasi (kesimpulan umum). Generalisasi merupakan pengetahuan umum yang dituangkan dalam pernyataan umum atau universal. Dari sinilah teori terbentuk.
e.       Tahap Peramalan (Prediksi).
Dalam tahap ini, deduksi mulai memainkan peranan. Disini ada teori yang sudah terbentuk tadi, diturunkan hipotesis baru dari hipotesis ini, lewat deduksi pula, ilmuan mulai menyusun implikasi logis agar mengadakan ramalan-ramalan tentang gejala yang perlu diketahui atau yang masih terjadi. Deduksi ini selalu dirumuskan dalam bentuk silogisme.
f.       Pengujian Kebenaran Hipotesis (Verifikasi).
Dalam tahap ini dilakukan pengujian kebenaran hipotesis dan itu artinya menguji kebenaran ramalan-ramalan tadi melalui pengamatan atau observasi terhadap fakta yang sebenarnya atau percobaan-percobaan. Dalam hal ini keputusan terletak pada fakta. Jika fakta tidak mendukung hipotesis, maka hipotesis itu harus dibongkar dan diganti dengan hipotesis lain dan seluruh kegiatan ilmiah harus dimulai lagi dari permulaan/ itu berari data empiris merupakan penentu bagi baner tidaknya hipotesis. Dengan demikian langkah terakhir dari seluruh kegiatan ilmiah adalah pengujian kebenaran ilmiah dan itu artinya menguji konsekuensi-konsekuensi yang telah dijabarkan secara deduktif.[13]

6.      Persyaratan Ilmu Pengetahuan
Demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus bekerja dengan cara ilmiah. Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat yang intinya adalah:
a.       Ilmu harus menpunyai objek, ini berarti bahwa kebenaran yang hendak diungkapkan dan dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya. Dengan kata lain, suatu ilmu harus bersifat menyeluruh dan tidak hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang saja. Suatu ilmu seharusnya memilki objek kajian yang masih berkaitan dengan ilmu itu sendiri. Ilmu tersebut haruslah sesuai dengan kenyataan, bukan hanya sebuah pemikiran yang belum dapat dipastikan
b.      Ilmu harus mempunyai metode, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran yang objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi. Dapat dikatakan sebagai ilmu jika sudah terbukti benar. Tidak hanya oleh satu orang, melainkan juga dapat dibuktikan oleh semua orang. Dan dapat diulang dengan hasil yang sama. Contoh ; segitiga memiliki sudut 180ᵒ.
c.       Ilmu harus sistematik, ini berarti bahwa dalam memberikan pengalaman, objeknya dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang teratur. Artinya mempunyai keteraturan dalam dirinya sehingga membentuk suatu system yang utuh, sehingga dapat menjelaskan hal-hal yang menyangkut objek kajiannya dan juga hubungan sebab-akibatnya.
d.      Ilmu bersifat universal, yaitu kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak mengenai sesuatu yang bersifat khusus, melainkan kebenaran berlaku umum.
e.       Empirik. Ilmu adalah sesuatu yang konkrit (dapat dirasakan keberadaan/objeknya). Ini berarti, segala hal yang tidak dapat kita rasakan secara konkrit tidak termasuk dalam scientific study. Contohnya seperti tauhid berkenaan dengan hal-hal yang gaib (tidak tampak). [14]

7.       Wujud Ilmu
The Liang Gie menyebut tiga wujud ilmu, yaitu ilmu sebagai proses, ilmu sebagai prosedur, dan ilmu sebagai produk. Proses berarti aktivitas penelitian, prosedur berarti metode ilmiah, sedangkan prodeuk berarti pengetahuan sistematis. Jadi, sebagai proses, psikologi menampakkan diri sebagai aktivitas penelitian. Sebagai prosedur, psikologi meneliti dengan menggunakan metode ilmiah, dan sebagai prodeuk, psikologi merupakan bangunan pengetahuan yang sistematis. Ketiga wujud ilmu di atas dapat disebut juga sebagai aspek-aspek ilmu. Ketiga pengertian itu berkaitan secara logis. Aktivitas ilmiah hanya terdapat di kelompok manusia khusus (yaitu ilmuwan). Sebab aktivitas ilmiah hanya dilakukan dengan rasio. Karena hanya manusia memiliki rasio, maka kegiatan ilmiah pun hanya terdapat dalam masyarakat manusia (khususnya ilmuwan). Hampir sebagian besar pembahasan tentang wujud ilmu di bawah ini mengacu kepada buku The Liang Gie dalam bukunya Filsafat Ilmu.
a.       Ilmu sebagai Proses
Ilmu sebagai proses berarti ilmu merupakan aktivitas penelitian. Para pelakunya disebut ilmuwan (scientist). Aktivitas yang dilakukan tidak bersifat tunggal, melainkan jamak. Ada rangkaian aktivitas penelitian yang bersifat rasional, kognitif, dan teologis.
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang menggunakan rasio. Yang terjadi adalah kegiatan penalaran logis atas pengamatan empiris. Aktifitas kognitif berarti kegiatan yang bertalian dengan proses tahu dan pengetahuan. Dengan proses kognitif (pengenalan, penerapan, konsepsi, dan penalaran) manusia mengetahui sesuatu. Aktivitas teologis (dari bahasa Yunani telos = tujuan) berarti kegiatan yang mengarah kepada tujuan tertentu. Jadi, ilmu adalah aktifitas yang mempunyai tujuan. The Liang Gie memberikan daftar tujuan yang ingin dicapai seorang ilmuwan lewat kegiatan ilmiah sebagai berikut :
-          Pengetahuan (knowledge)
-          Kebenaran (truth)
-          Pemahaman (understanding, comprehension, insight)
-          Penjelasan (explanation)
-          Peramalan (prediction)
-          Pengendalian (control)
-          Penerapan (application, invention, production)
Karena aspek inilah, sering kita temukan definisi dari ilmuwan sebagai orang yang melakukan penelitian ilmiah. Seperti dikutip The Liang Gie, arti ini diberikan dalam The International Encyclopedia of Higher Education (scientist is a person eho engagers in scientific research). Tetapi ini bukan definisi yang lengkap, hanya karena menggambarkan satu aspek dari ilmu dan kegiatan ilmu. Batasan yang lengkap harus mencakup pada dua aspek lain yang disebut di atas, yakni ilmu sebagai prosedur dan produk.
b.      Ilmu sebagai Prosedur
Ilmu sebagai prosedur berarti ilmu merupakan kegiatan penelitian yang menggunakan metode ilmiah. Menurut The World of Science Encyclopedia, metode ilmiah ialah prosedur yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari sistematis pengetahuan baru dan peninjauan kembali pengetahuan yang ada.
Dapat disimpulkan bahwa metode ilmiah pada umumnya menyangkut empat hal yakni : pola procedural, tata langkah, teknik-teknik, dan alat-alat.
Unsur yang termasuk dalam pola procedural ialah pengamatan, percobaan, pengukuran, survey, deduksi, induksi, dan analisa. Unsur yang termasuk dalam tata langkah ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, kesimpulan, dan pengujian hasil. Unsur yang termasuk dalam teknik-teknik antara lain questionnaire, wawancara, perhitungan, dan pemanasan. Alat-alat yang digunakan antara lain timbangan, meteran, perapian, computer.
c.       Ilmu sebagai Produk
Pengertian inilah yang paling sering digunakan. Dalam arti ketiga ini, ilmu merupakan kumpulan pengetahuan sistematis yang merupakan produk dari aktivitas penelitian dngan metode ilmiah.
Sebagai system pengetahuan, ilmu mempunyai objek material dan objek formal. Objek material sering disebut pokok soal (subject matter), sedangkan objek material dinamakan titik perhatian focus of interest) atau sikap pikiran (attitude of mind). Lebih lazim, objek formal dinamakan sudut pandang.
Sebagai system pengetahuan atau pengetahuan sistematis, ilmu memiliki ciri-ciri empiris, sistematis, obyektif, analitis, dan varifikatif. Ciri empiris mengandalkan pengamatan (observasi) atau percobaan (eksperimen). Ilmu berbeda dari pengetahuan karena ciri sistematis, dan berbeda dari filsafat karena ciri empirisnya.
Ciri sistematis berarti bahwa kumpulan pengetahuan-pengetahuan itu memiliki hubungan-hubungan ketergantungan dan teratur. Ciri objektif ilmu berarti bahwa pengetahuan ilmiah bebas dari prasangka perseorangan (personal bias) dan pamrih pribadi. Ilmu harus berisi data yang menggambarkan secara tepat gejala-gejala.
Ilmu berciri analisis artinya ilmu melakukan pemilihan-pemilihan atas pokok soal ke dalam bagian-bagian untuk mengetahui sifat dan hubungan bagian-bagian tersebut. Ciri verifikatif ilmu berarti bahwa tujuan yang ingin dicapai ilmu ialah kebenaran ilmiah. Kebenaran ini dapat berupa kaidah-kaidah atau azas-azas yang universal. Dengan demikian, manusia dapat membuat ramalan dan mengasai alam.[15]

C.    Rangkuman
Ilmu berasal dari bahasa Arab, alima, yang berarti tahu. Sementara dari bahasa Latin, berasal dari kata scio, scire yang artinya tahu. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis, suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera.
Pengetahuan yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya yaitu selalu terdiri atas unsur yang mengetahui dan diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut adanya subjek dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya.
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) mempunyai lima ciri pokok antara lain:
1.      Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2.      Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
3.      Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi;
4.      Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu;
5.      Verifikatif, dapat diperiksa kebenaranya oleh siapapun juga.

Kumpulan pernyataan ilmuan mengenai suatu objek yang memuat pengetahuan ilmiah oleh The Liang Gie (2000) mempunyai 4 bentuk :
a.       Deskripsi
b.      Preskripsi
c.       Eksposisi pola.
d.      Rekonstruksi histpris

Langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan :
a.       Perumusan Masalah.
b.      Pengamatan dan Pengumpulan Data atau Observasi.
c.       Pengamatan dan Klasifikasi Data.
d.      Perumusan Pengetahuan (definisi).
e.       Tahap Peramalan (Prediksi).
f.       Pengujian Kebenaran Hipotesis (Verifikasi).

Demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus bekerja dengan cara ilmiah. Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat yang intinya adalah:
a.       Ilmu harus menpunyai objek,
b.      Ilmu harus mempunyai metode.
c.       Ilmu harus sistematik
d.      Ilmu bersifat universal,
e.       Empirik.

The Liang Gie menyebut tiga wujud ilmu, yaitu ilmu sebagai proses, ilmu sebagai prosedur, dan ilmu sebagai produk. Proses berarti aktivitas penelitian, prosedur berarti metode ilmiah, sedangkan prodeuk berarti pengetahuan sistematis. Jadi, sebagai proses, psikologi menampakkan diri sebagai aktivitas penelitian. Sebagai prosedur, psikologi meneliti dengan menggunakan metode ilmiah, dan sebagai prodeuk, psikologi merupakan bangunan pengetahuan yang sistematis

D.    Buku Rujukan
1.      Gie, The Liang. (1991) Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty.
2.      Gie, The Liang, 2000, Administrasi Perkantoran Modern, Yogyakarta : Liberty.
3.      Hamami M, Abbas, 2003, Kebenaran ilmiah, dalam : Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Pengetahuan, Tim Dosen Filasafat Ilmu, Yogyakarta : Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada, Penerbit Liberty.
4.      Kartanegara, Mulyadi, 2006, Gerbang Kearifan : Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Jakarta : Penerbit Lentera Hati.
5.      Kasmadi, Hartono,dkk, 1990,Filsafat Ilmu, Semarang: IKIP Semarang Press.
6.      Kebung, Konrad, 2011, Filsafat Imu Pengetahuan, Jakarta : Prestasi Pustakaraya.
7.      Khun, Thonas, 1996, The Structure of Scientific Revolutions, Chicago : The University of Chicago Press.
8.      Latif, Mukhtar, Orientasi ke Arah Pemahaman : Filsafat Ilmu, 2014,  Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP.
9.      Peursen, Van, Mooji, Kwee, Beerling, 1998, Pengantar Filasafat Ilmu, Yogyakarta : PT.Tiara Wacana Yogya.
10.  Rinji, Ketut. 1997, Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar, Bandung : CV Banyumas.
11.  Suhartono, 2008, Metode Penelitian Deskriptif¸ Yogyakarya : Mandiri Prima.
12.  Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
13.  Suriasumantri, Jujun S , 2005, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

E.     Latihan
1.      Apa yang dinamakan dengan ilmu dan  pengetahuan ?
2.      Bagaimana ciri-ciri ilmu pengetahuan ?
3.      Apa saja syarat-syarat ilmu pengetahuan ? jelaskan !
4.      Sebutkan susunan ilmu pengetahuan ? jelaskan !
5.      Apa wujud sebuah ilmu ?


[1] Jujun S Suriasumantri, 2005, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan), hlm 104.
[2] Ketut Rinjin. 1997, Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar, (Bandung : CV Banyumas), hlm  57-58.
[3] Jujun S Suriasumantri, Ibid., hlm 119.
[4] Thonas Khun, 1996, The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago : The University of Chicago Press), hlm 99.
[5] Mulyadi Kartanegara, 2006, Gerbang Kearifan : Sebuah Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta : Penerbit Lentera Hati), hlm 177.
[6] Suhartono, 2008, Metode Penelitian Deskriptif¸(Yogyakarya : Mandiri Prima), hlm 43.
[7] Mukhtar Latif, Orientasi ke Arah Pemahaman : Filsafat Ilmu, 2014,  (Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP) hlm 69.
[8] Abbas Hamami M, 2003, Kebenaran ilmiah, dalam : Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Pengetahuan, Tim Dosen Filasafat Ilmu, (Yogyakarta : Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada, Penerbit Liberty) hlm 92.
[9] Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. (Jakarta: Bumi Aksara), hal 67-68.
[10] Konrad Kebung, 2011, Filsafat Imu Pengetahuan, (Jakarta : Prestasi Pustakaraya), hlm 43.
[11] Mukhtar Latif, Ibid., hal 92.
[12] The Liang Gie, 2000, Administrasi Perkantoran Modern,(Yogyakarta : Liberty), hlm 41.
[13] Van Peursen, Mooji, Kwee, Beerling, 1998, Pengantar Filasafat Ilmu, (Yogyakarta : PT.Tiara Wacana Yogya), hlm 88.
[14] Hartono Kasmadi,dkk, 1990,Filsafat Ilmu, (Semarang: IKIP Semarang Pres), hlm 8-9.
[15] The Liang Gie. (1991) Pengantar Filsafat Ilmu. (Yogyakarta : Liberty), hal 130

Tidak ada komentar:

Posting Komentar