MANAJEMEN
MOTIVASI
Oleh
Hida
Tazkiatul Muktafa
(NIM:1144030034)
A.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa
mampu memahami manajemen motivasi, serta mampu mengaplikasikannya dalam
kehidupan berorganisasi.
B.
Materi
1.
Pendahuluan
Pada ilmu manajemen pembahasan mengenai motivasi memiliki posisi
yang penting. Hal ini dikarenakan konsep motivasi dapat memberi pengaruh dan
dampak yang besar bagi kemajuan serta pergerakan suatu perusahaan atau sebuah
organisasi di masa depan. Pada awal berdirinya sebuah organisasi atau
perusahaan atau bahkan di saat organisasi/perusahaan tersebut mengalami
permasalahan maka motivasi memiliki kedudukan yang penting dan dibutuhkan
sebagai bagian yang mampu mengatasi semua itu.[1]
Tingkah laku manusia itu hakikatnya adalah berorientasi pada sebuah
tujan dengan kata lain bahwa perilaku seseorang itu pada umumnya dipacu oleh
keinginan untuk mencapai beberapa tujuan. Suatu dasar dari dari setiap perilaku
adalah kegiatan. Sehingga dengan demikian semua perilaku itu adalah serangkaian
aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan.
Bagaimana seorang manajer bisa memahami, menduga, dan bahkan
mengendalikan aktivitas-aktivitas seseorang yang dikerjakan pada saat tertentu?
Untuk hal ini sebagai seorang manajaer harus mengetahui dorongan atau kebutuhan
seseorang yang mengundangnya untuk mau mengerjakan suatu aktivitas tertentu.[2]
2.
Pengertian Motivasi
Menurut Kanfer,
motivasi (motivation) merupakan sebuah kekuatan psikologis yang akan
menentukan arah dan tujuan dari perilaku seseorang, besarnya usaha dari
seseorang dan level ketagaran pada saat orang itu dihadapkan pada berbagai
rintangan.
Definisi
motivasi diatas memiliki beberapa point penting yang dapat dipaparkan sebagai
berikut.
a.
Arah dan tujuan perilaku seseorang menyatakan berbagai kemungkinan pilihan perilaku yang dapat dipilih
oleh seseorang.
b.
Besarnya upaya, menunjukkan
sampai sejauh mana upaya orang tersebut untuk menggapai suatu tujuan atau
pencapai suatu hasil. Tingkat upaya ini juga akan menunjukkan intensitas dari dorongan
(drive) atau acuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai suatu
keinginan atau hasil tertentu.
c.
Level ketegaran, memberikan
arti bahwa apakah seseorang pada saat menghadapi sebuah masalah atau sebuah
rintangan akan tetap berusaha mengatasinya, akan berusaha menyelesaikan
masalahnya ataukan menyerah.[3]
Pengertian
motivasi menurut Santoso Suroso adalah motivsai merupakan suatu set atau
kumpulan perilaku yang memberikan sebuah landasan untuk seseorang dalam
bertindak dengan suatu cara yang diarahkan kepada sebuah tujuan tertentu yang
spesifik (specific goal directed way)[4]
Sedangkan
menurut Deslen G (2003) :
“motivasi
adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang
agar mereka mau bekerjasama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala
daya upaya untuk mencapai kepuasan.”[5]
3.
Teori Motivasi
a.
Expectancy Theory (Teori
Ekspektansi).
Teori ini
diformulasikan oleh Victor Vroom pada tahun 1960-an. Teori ini
menyatakan bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang besar pada saat orang
tersebut meyakini bahwa tingkat usaha yang besar akan menuju pada sebuah
pencapaian kinerja yang tinggi, dan dengan demikian akan mengarah kepada
pencapaian hasil yang diinginkan. Dalam teori ekspektasi terdapat tiga faktor
yang akan menentukan motivasi seseorang, yakni: ekspektansi, instrumentalitas (instrumentality),
dan valensi (valence).[6]
![]() |
Gambar
1.1
Ekspektansi,
Instrumentalitas, dan Valensi[7]
Menurut Handoko (1996) ada beberapa ahli yang mengemukakan
bahwa ada beberapa pendapat mengenai kebutuhan atau kepuasan (motivasi)
diantara sebagai berikut :
a.
Teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow (Maslow Need).
Kebutuhan adalah sesuatu yang sangat diperlukan untuk bertahan
hidup atau mempertahankan kesejahteraan. Teori kebutuhan menerangkan bahwa
dalam memotivasi seseorang supaya bersedia memberikan input terbaik adalah
dengan mengidentifikasi kebutuhan apa yang ingin dipuaskan melalui pekerjaan
yang ia lakukan dan manajer perusahaan harus memastikan bahwa orang tersebut
akan menerima hasil yang dapat memuaskan kebutuhannya pada saat ia menunjukkan
kinerja yang tinggi dan membantu pencapaian tujuan perusahaan. Inti dari teori
kebutuhan adalah bahwa seseorang akan termotivasi untuk mendapatkan hasil yang
memuaskan kebutuhannya.
Gambar 1.2
Proses Motivasi
b.
Teori Penetapan Tujuan oleh Ed Locke dan Gary Latham
Menurut teori penetapan tujuan ini, tujuan yang ingin di capai oleh
setiap anggota dalam sebuah organisasi merupakan sebuah penentu utama motivasi
mereka dan berbagai macam kinerja yang mereka tunjukkan.[8]
c.
Teori Motivasi Prestasi McClelland
Menurut McClelland,
“seseorang dianggap mempunyai motivasi untuk berprestasi jika ia
mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya yang berprestasi lebih baik
dari prestasi karya orang lain. Ada tiga kebutuhan manusia ini menurut
McClelland, yakni kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berafilisiasi,
dan kebutuhan untuk kekuasaan. Ketiga kebutuhan ini terbukti merupakan
unsur-unsur yang amat penting dalam menentukan prestasi seseorang dalam
bekerja”.[9]
d.
Teori keadilan dalam motivasi menurut J Staky Adams.[10]
Teori Ekuitas/Keadilan (Equity Theory) merupakan teori
motivasi yang memusatkan kajiannya
kepada persepsi yang dimiliki seseorang mengenai adil tidaknya hasil yang dia
dapat secara relatif dibandingkan dengan input yang mereka berikan pada
pekerjaan. Hal yang dapat disimpulkan dari teori ekuitas adalah bahwa orang akan
termotivasi untuk memberikan input secara terus-menerus bagi perusahaan apabila
keadilan terjadi.
4.
Penerapan Teori Motivasi
a.
Penerapan Teori Motivasi Abraham Maslow
1)
Tindakan yang dilakukan organisasi
ü Memberi imbalan
finansial (upah, gaji) yang sesuai dengan hasil karyanya dalam bekerja.
ü Memberi
identitas organisasi pada setiap anggota, agar karyawan dapat merasa dirinya
sebagai anggotanya.
ü Memberikan
apresiasi berupa imbalan atau hadiah atas prestasi yang dicapai.
2)
Tindakan yang dilakukan oleh pemimpin
ü Memastikan
anggotanya mendapat imbalan sebagai hak mereka.
ü Memastikan
bahwa mereka mengerti peraturan dan program organisasi.
ü Memberikan
apresiasi kepada anggota yang berprestasi berupa pujian atau materi.
b.
Penerapan Motivasi dari J. Staky Adams
Ia menyatakan bahwa manusia mempunyai watak untuk membandingkan
dirinya dengan orang lain. Orang akan membandingkan segala yang mereka miliki
dengan apa yang orang lain miliki. Persepsi bahwa ada ketidakadilan dalam
kompensasi ditempat kerja akan sangat berpengaruh terhadap motivasi untuk
melakukan pekerjaan.
Tiga cara yang dapat dilakukan dalam menangani kehilangan motivasi
adalah sebagai berikut:
1)
Menganalisa penyebab hilangnya motivasi. Bisa dengan cara
berkomunikasi atau berdialog dengan anggota yang terlihat hilang mitivasi dalam
dirinya.
2)
Mendorong kerjasama. Salah satu cara untuk mengubah pertentangan
diantara staff adlah dengan menempatkan mereka dalam sebuah tim. Cara yang lain
adalah dengan cara menukar posisi mereka agar mengetahui beban kerja satu sama
lain.
3)
Berikan anggota staff konseling. Untuk menangani berbagai macam
masalah yang ada di setiap anggota adalah dengan menyediakan seseorang yang
mampu menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Agar semua beban dan masalah
yang mereka miliki berkurang sedikit demi sedikit dengan berkomunikasi.[11]
5.
Fungsi dan Tujuan Manajemen Motivasi
Berikut
adalah fungsi manajemen motivasi, diantaranya:
a.
Memberikan kekuatan secara psikologis untuk menentukan arah dari
perilaku seseorang.
b.
Mendorong seseorang guna mencapai suatu hasil tertentu.
c.
Membuat seseorang mampu menghadapi rintangan dan mengatasi masalah
yang ia miliki.
d.
Memanfaatkan motivasi untuk menghasilkan kinerja karyawan yang baik.
e.
Memberikan kontribusi kepada efesiensi organisasi, efektivitas
organisasi dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
Tujuan manajemen motivasi, diantaranya:
a.
Menentukan arah perilaku seseorang.
b.
Mencapai tujuan organisasi dengan efektif.
c.
Menghasilkan kinerja karyawan yang baik.
d.
Seseorang terdorong dalam mencapai suatu hasil tertentu.
6.
Faktor-faktor yang Menimbulkan Motivasi
Ø Intrinsically Motivated
Behavior
Perilaku
yang dimotivasi secara intrinsik (intrinsically motivated behavior)
merupakan perilaku yang sumber motivasinya berasal dari diri mereka sendiri dan
kepuasan dalam melakukan pekerjaan mereka sendiri.
Ø Extrinsically Motivated
Behavior
Perilaku
yang dimotivasi secara eksrinsik (extrinsically motivated behavior)
merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang dengan tujuan memperoleh
imbalan material (upah), imbalan sosial, atau untuk menghindari hukuman.[12]
7.
Solusi dalam Mengatasi Masalah di Bidang Motivasi
Secara umum ada beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk
mengatasi beberapa masalah di bidang motivasi, diantaranya yaitu:
a.
Pimpinan menciptakan suasana yang mendukung ke arah pembentukan
situasi dan kondisi kerja yang nyaman, saling menghargai, dan menempatkan rasa
simpati kepada mereka yang menjalankan pekerjaan secara baik.
b.
Seorang pemimpin yang bijaksana menghidari bahasa-bahasa dan
perintah yang bersifat atau memungkinkan untuk timbulnya sebuah konflik.
c.
Para pimpinan dan karyawan selalu berfikir positif.
d.
Jika pimpinan atau karyawan memiliki prestasi, maka sebaiknya
berikan apresiasi karena itu akan membangkitkan semangat dan akan menempatkan
dirinya sebagai orang yang dihargai atas kerja keras yang telah dilakukan.[13]
C.
Ringkasan
Motivasi adalah aktivitas perilaku yang bekerja dalam usaha
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan. Perilaku seseorang itu hakikatnya
ditentukan oleh keinginannya untuk mencapai tujuan. Keinginan itu istilah
lainnya adalah motivasi. Oleh karena itu, motivasi adalah pendorong supaya
seseorang itu melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuannya.
Kekuatan sebuah motivasi bagi seseorang itu bisa berubah kapan
saja. Perubahan tersebut terjadi karena adanya kepuasan kebutuhan, maksudnya
yaitu apabila seseorang sudah mendapatkan kepuasan atas apa yang dibutuhkannya
maka motivasi itu sedikit demi sedikit akan pudar dan hilang. Penyebab lainnya
adalah terhalangnya pencapaian dalam memuaskan kebutuhan, maka sesseorang akan
mencoba mencari cara lain untuk memuaskannya, sampa tujuan tersebut tercapai.
Selain dua penyebab diatas penyebab lainnya yaitu, perbedaan kognisi, frustasi,
dan karena kekuatan motivasi itu bertambah.
D.
Daftar Pustaka
Fahmi, Irham. Manajemen Teori, Kasus, dan Solusi. Bandung :
CV. Alfabeta. 2012.
R.Jones, Gareth
dan Jennifer M. George. Essentials of Contemporary Management, Second
Edition. McGraw Hill. 2007.
Solihin, Ismail. Pengantar
Manajemen. Jakarta : Erlangga. 2009.
Suroso, Santoso.
Manajemen Sumber Daya Manusia di Rumah Sakit; Suatu Pendekatan Sistem. Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2003.
Subroto, Agus dan
M Nasikh. Manajemen Sumber Daya Manusia. Malang : STIE Indonesia Malang.
2009.
Toha, Miftah. Perilaku Organisasi, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada. 2012.
E.
Tugas dan Soal
1.
Mengapa mempelajari manajemen motivasi itu penting?
2.
Mengapa manajer perlu memotivasi anggotanya?
[1] Irham Fahmi, Manajemen
Teori, Kasus, dan Solusi, (Bandung : CV. Alfabeta, 2012), hlm 142
[2] Miftah Toha, Perilaku
Organisasi, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012), hlm 207
[3] Ismail
Solihin, Pengantar Manajemen, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm 152
[4] Santoso
Suroso, Manajemen Sumber Daya Manusia di Rumah Sakit; Suatu Pendekatan
Sistem (Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2003), hlm 69
[5] Agus Subroto
dan M Nasikh, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Malang : STIE Indonesia
Malang, 2009), hlm 104
[6] Ismail
Solihin, Ibid, hlm 156
[7] Gareth R.Jones
dan Jennifer M. George, Essentials of Contemporary Management, Second
Edition (McGraw Hill, 2007) hlm 325
[8] Ismail
Solihin,. Ibid, hlm 159
[9] Miftah Toha,. Ibid,
hlm 237
[10] Agus Subroto
dan M Nasikh,. Ibid, hlm 105
[11] Agus Subroto
dan M Nasikh,. Ibid, hlm 118
[12] Ismail
Solihin,. Ibid, hlm 154
[13] Irham Fahmi,. Ibid,
hlm 157

Tidak ada komentar:
Posting Komentar