Selasa, 06 Desember 2016

RESUME BUKU MANAJEMEN PELATIHAN DAKWAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Mengapa Buku Ini Lahir ?
Lahirnya buku ini dilatarbelakangi oleh kurangnya referensi Mata Kuliah Manajemen Pelatihan Dakwah, penulis sering kali diminta oleh mahasiswa menulis buku mata kuliah tersebut. Selain untuk memudahkan perkuliahan, juga untuk menambah referensi yang kini masih langka.
B.     Siapa Sasaran Buku Ini ?
Sesuai dengan bidangnya, buku ini merupakan literature bagi mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, kkhususnya Jurusan Manajemen Dakwah, yang secara latar belakang keilmuan menekuni bidang Tadbir. Dimana salah satu kajiannya adalah mengkaji pengelolaan pelatihan dakwah ini.
C.    Cara Memahami Buku Ini
Beberapa sub bahasan yang terkategori ke dalam pra-pelatihan adalah perencanaan pelatihan dan pengorganisasian pelatihan. Sedangkan bahasan yang terkategori ke dalam pelaksanaan pelatihan : Pelaksanaan pelatihan dan pengawasan pelatihan. Adapun yang termasuk pada pasca pelatihan : Evaluasi pelatihan, pelaporan pelatihan dan follow up pelatihan. Masing-masing bahasan di atas dipilah ke dalam tiap-tiap bab.
Dengan adanya pelatihan dakwah, diharapkan kegiatan dakwah tidak akan ketinggalan oleh perubahan yang terjadi. Namun sebaliknya, diharapkan bisa memotivasi, mengarahkan dan mengendalikan perubahan tersebut, agar senantiasa sesuai dengan aturan dan nilai-nilai luhur Islam dan mengarah kepada semakin makmurnya alam semesta dan semakin mulianya manusia disisi Allah SWT.

BAB II
DASAR-DASAR PELATIHAN DAKWAH
A.    Pengantar
Pelatihan dilakukan seiring dengan kehidupan yang terus berubah. Perubahan yang terjadi, sebagian terjadi karena pertumbuhan alamiah. Seperti perkembangan bayi,anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Demikian juga seperti perubahan karena bencana alam dan sebagainya.
B.     Pengertian Manajemen Pelatihan Dakwah
Manajemen secara bahasa, berasal dari kata inggris to manage atau Itali managio dari managiare, yang berarti melatih kuda-kuda, atau mengendalikan ( to handle ) , serta dari bahasa Latin manus, yang berarti tangan ( to handle ), menangani, mengurus, mengendalikan. Arti lebih spesifik dari manage, yaitu to direct and control (membimbing dan mengawasi), to treat with care (memperlakukan dengan seksama), to carry on business or affairs ( mengurus perniagaan atau urusan) to achieve one’s purpose ( mencapai tujuan tertentu).
Sedangkan manajemen sendiri berarti act or art managing; conduct; control; direction (tindakan atau seni mengurus; memperlakukan; pengawasan; pembimbingan). Dengan kata lain manajemen berarti proses kegiatan yang dilakukan secara bersama untuk mencapai tujuan.
C.    Objek Kajian Manajemen Pelatihan Dakwah
Setiap ilmu memiliki objek material dan objek formal. Jika ditelusuri, Manajemen Pelatihan Dakwah (MPD) memiliki objek material yaitu perilaku manusia dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Sampai disini MPD memiliki keserumpunan dengan manajemen pendidikan.
Sementara yang membedekan MPD dengan ilmu tersebut terdapat pada objek formalnya, yaitu pengelolaan kegiatan. Sedangkan objek materialnya pengelolaan kegiatan dalam meningkatkan keterampilan, mengubah pemahaman, sikap dan perilaku sesuai dengan misi dakwah Islam.
D.    Tujuan Manajemen Pelatihan Dakwah
Pada prinsipnya tujuan MPD dapat digolongkan menjadi tiga kategori. Pertama, terkelolanya upaya meningkatkan keterampilan. Pelatihan yang diselenggarakan berkaitan dengan tujuan meningkatkan keterampilan para peserta sehubungan dengan tugas yang harus diselesaikan. Kedua, terkelolanya upaya meningkatkan sikap. Pelatihan yang diselenggarakan bertujuan untuk menghasilkan perubahan yang diselenggarakan bertujuan untuk menghasilkan perubahan sikap padadiri peserta. Ketiga, terkelolanya upaya meningkatkan pengetahuan Pelatihan yang diselenggarakan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para peserta latihan.

BAB III
PERENCANAAN PELATIHAN DAKWAH
A.    Merumuskan Tujuan Pelatihan Dakwah
Dalam bidang pelatihan, tujuan dan sasaran seringkali dicampurkan. Padahal tujuan merupakan pernyataan terntang maksud secara umum. Sedangkan sasaran lebih menyatakan tuntutan yang spesifik dan menunjukkan hasil yang akan di capai melalui kegiatan pelatihan.
B.     Merumuskan Sasran Pelatihan Dakwah
Sasaran pelatihan dakwah merupakan sarana keberhasilan pelatihan. Adanya sasaran pelatihan. Adanya sasran pelatihan mempunyai arti dan manfaat dalam hal :
1.      Sebagai dasar menentukan apa yang harus dilakukanoleh peserta selama mengikuti pelatihan.
2.      Menjamin konsistensi penyusunan program.
3.      Memudahkan komunikasi antara penyusun program pelatihan dengan pihak yang berkepentingan.
4.      Merupakan kerangka dari sesuatu program pelatihan.
5.      Membantu fasilitator (pelatihan) memilih strategi untuk mencapai tujuan pelatihan.
6.      Memudahkan pelatih didalam menyusun bahan penilaian terhadap kemajuan peserta selama mengikuti pelatihan.
7.      Menghindari kemajuan konflik penyelenggaraan program pelatihan dengan yang meminta program pelatihan.
8.      Membantu penyelenggara untuk menentukan program tindak lanjut daripada pelatihan.

BAB IV
PENGORGANISASIAN PELATIHAN DAKWAH
A.    Pengertian Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah proses penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuannya, sumber-sumber dan lingkungannya. Organisasi memiliki  dua aspek.
1.      Struktur organisasi, yaitu susunan komponen-komponen (unit kerja) dalam organisasi.
2.      Aspek perilaku.
B.     Mengorganisasikan Kebutuhan Pelatihan Dakwah
Kebutuhan pelatihan dakwah diantaranya :
1.      Merumuskan kerangka acuan (TOR : term of refence ) latihan.
2.      Menggandakan bahan-bahan latihan untuk peserta.
3.      Merancang survey kebutuhan latihan (training need assement)
4.      Merancang program latihan lanjut.
5.      Melaksanakan dan menganalisis hasil survey latihan para calon peserta.
6.      Merumuskan kebutuhan latihan lanjutan.
7.      Menyusun panduan (manual) latihan.
8.      Menginventarisasi dan mengidentifikasi calon peserta latihan.
9.      Memanggil/mengundang calon peserta latihan.
10.  Mengurus izin pelaksannan latihan.
11.  Mempersiapkan fasilitas akomodasi peserta latihan.
12.  Mengatur penempatan peserta di asrama/ lokasi pelatihan.
13.  Melaksanakan acara latihan di ruang kelas latihan.
14.  Memantau (monitoring) kegiatan tindak-lanjut pasca-latihan para peserta ditempat masing-masing.
15.  Melaksanakan rapat koordinasi tim pemandu/panitia untuk persiapan teknis acara latihan di ruang kelas latihan.
16.  Menghubungi narasumber luar yang dibutuhkan.
17.  Melakukan acara kunjungan kerja sebagai perbandingan latihan hasil di kelas.
18.  Melakukan evaluasi akhir latihan.
19.  Melaksanakan acara Kontak Belajar (penentuan garis besar) materi, urutan/pola kegiatan serta jadwal harian dan tata tertib latihan dengan para peserta.
20.  Menyusun laporan proses pelaksanaan latihan.

BAB V
PELAKSANAAN PELATIHAN DAKWAH
A.    Tahapan Pelaksanaan Pelatihan Dakwah
Setelah diadakan check in peserta, pembagian bahan-bahan dan penempatan penginapan peserta (jika kegiatan pelatihan dakwah perlu menginap), maka rangkaian kegiatan pelaksanaan pelatihan dimulai. Diawali dengan pembukaan, proses, dan penutupan.
B.     Macam-macam Metode Pelatihan
Berikut macam-macam pelatihan partisipatif yang dapat dilakukan untuk orang dewasa .
1.      Metode pemasaran (ice breaker)
2.      Metode curah pendapat (Brainstorming)
3.      Metode diskusi kelompok (DISCO)
4.      Metode diskusi panel
5.      Metode penguasaan
6.      Metode kerja kelompok
7.      Metode simulasi
8.      Metode bermain peran
9.      Metode demonstrasi
10.  Forum
11.  Jenis cawan ikan (fish bowls)
12.  Jenis pro kontra (debat)
13.  Jenis rembuk sejati
14.  Jenis momentum
15.  Jenis urun pendapat (brainstorming method)
16.  Jenis foto novellas
17.  Jenis buzz group
18.  Jenis pemeranan
19.  Pengalaman berstruktur
C.    Membangun Pelatihan Dakwah Efektif
Pelaksanaan pelatihan dapat dikatakan efektif apabila :
1.      Pelaksanaan pelatihan selaras dengan kebutuhan peserta pelatihan
2.      Peserta pelatihan merasakan bahwa dengan mengikuti pelatihan, kebutuhan yang dirasakan terpenuhi.
3.      Peserta tidak merasakan adanya tekanan dalam pelatihan.
4.      Peserta dapat menarik kesimpulan sendiri dan mengolah sendiri isi pelatihan.
5.      Praktis dalam penerapannya.

BAB VI
PENGAWASAN PELATIHAN DAKWAH
A.    Proses Pengawasan Pelatihan Dakwah
Pengawasan dalam pelatihan merupakan rangkaian dari perencanaan dan pelaksanaan. Pengawasan dilakukan untuk melihat sejauh mana kesesuaian perencanaan dengan jalannya pelaksanaan pelatihan.
Proses pengawasan dalam pelatihan terdiri dari tiga tahap, yaitu menetapkan standar, pengukuran dan menentukan kesenjangan.
B.     Langkah Langka Pengambilan Keputusan untuk Tindakan Korektif
1.      Mengetahui hakikat dari masalah yang dihadapi, mampu mendefinisikannya secara tepat;
2.      Mengumpulkan fakta-fakta dan data yang relevan;
3.      Mengolah fakta-fakta dan data-data tersebut;
4.      Menentukan beberapa alternative yang mungkin di tempuh;
5.      Memilih cara pemecahan dari alternative-alternatif yang mungkin di tempuh;
6.      Memutuskan tindakan-tindakan korektif yang terbaik;
7.      Menilai hasil-hasil yang diperoleh sebagai hasil dari tindakan korektif yang telah di ambil.
C.    Pengawasan Efektif
Pengawasan sebaiknya fleksibel, sesuai dengan keperluan situasi dan kondisi, dimana tindakan korektif harus diambil. Karena pengawasan bisa memiliki implikasi pada emosional dan motivasional yang berkaitan dengan fungsional dan disfungsional.
Dengan begitu, pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan perbaikan, yang senantiasa membangkitkan motivasi. Tidak hanya mengungkap penyimpangan dari standar, tetapi juga penyediaan alternative perbaikan dan menentukan langkah-langkah strategis perbaikan.

BAB VII
EVALUASI PELATIHAN DAKWAH
A.    Pengertian Evaluasi Pelatihan Dakwah
Evaluasi atau penilaian berarti penentuan kemajuan pelatihan dakwah dengan tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi pelatihan dakwah juga merupakan suatu usaha untuk memperoleh informasi tentang hasil suatu program pelatihan dakwah dan menentukan nilai dari sudut pandang informasi tersebut. Hal itu juga berarti suatu proses menentukan, apakah telah ada kemajuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau tidak.
B.     Tujuan Evaluasi Pelatihan Dakwah
Tujuan evaluasi latihan adalah :
1.      Mendapatkan dan menganalisa informasi untuk mengetahui pencapaian tujuan jangka pendek dan jangka panjang pelatihan dakwah.
2.      Menemukan bagian-bagian pelatihan dakwah mana yang berhasil mencapai tujuan, serta bagian-bagian latihan mana yang kurang berhasil, sehingga dapat dibuat langkah-langkah perbaikan.
3.      Untuk mengetahui pengaruh program latihan terhadap efisiensi dan efektifitas pelaksanaan tugas di lapangan.
4.      Untuk mengetahui tingkat perubahan sikap serta tingkah laku peserta latihan.
5.      Memberi kesempatan kepada peserta yang menyumbang saran-saran dan penilaian program yang dijalankan.
6.      Untuk menjadi alat pembantu dalam proses pelatihan dakwah.
C.    Manfaat Evaluasi Pelatihan Dakwah
Evaluasi pelatihan dakwah memiliki banyak manfaat. Manfaat secara umum diantaranya :
1.      Memperoleh informasi tentang kualitas dan kuamtitas hasil pelaksanaan program pelatihan dakwah.
2.      Untuk mengetahui relevansi program pelatihan dakwah dengan kebutuhan di lapangan.
3.      Membuka kemungkinan untuk memperbaiki atau menyesuaikan program pelatihan dakwah dengan perkembangan keadaan.
4.      Untuk mengetahui apakah pelatihan dakwah bisa memerankan sebagai sebuah investasi.
5.      Untuk menambah reputasi dan pengaruh bagi penyelenggara pelatihan dakwah.
6.      Untuk mengetahui apakah kegiatan pelatihan dakwah perlu dilanjutkan.

BAB VIII
LAPORAN DAN FOLLOW UP PELATIHAN DAKWAH
A.    Pengertian Laporan
Laporan dapat diartikan sebagai salah satu alat untuk menyampaikan informasi, baik lisan maupun tulisan, guna terjadinya hubungan yang baik antara bawahan dengan atasan, atau sebagai salahsatu cara pelaksanaan komunikasi dari satu pihak kepada pihak lain.
Laporan pada intinya dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang apa (what) yang terjadi, dimana (where), kapan (when) dan mengapa (why) hal itu terjadi. Selain itu juga untuk menggambarkan siapa (who) yang bertanggungjawab atas semua itu.
B.     Fungsi Laporan Pelatihan Dakwah
Diantara fungsi-fungsi tersebut adalah :
1.      Fungsi pertanggungjawaban.
2.      Fungsi penyampaian informasi.
3.      Bahan pengambilan keputusan.
4.      Fungsi alat kerjasama.
5.      Fungsi alat memperluas ide pengalaman.
6.      Fungsi alat memperluas ide dan pengalaman.
C.    Prinsip-prinsip Laporan Pelatihan Dakwah
Ada sejumlah prinsip laporan dalam pelatihan dakwah tersebut, yaitu :
1.      Laporan harus benar dan objektif.
2.      Laporan harus jelas dan cermat.
3.      Lapran harus langsung mengenai sasaran.
4.      Laporan harus lengkap.
5.      Laporan harus tegas dan konsisten.
6.      Laporan harus tepat pada waktunya.
7.      Laporan harus tepat penerimanya.
D.    Langkah-langkah Pembuatan Laporan Pelatihan Dakwah
Berikut ini langkah-langkah penyusunan laporan yang dimaksud :
1.      Menentukan subjek.
2.      Mengumpulkan data dan fakta.
3.      Mengklasifikasikan data.
4.      Evaluasi dan pengolahan (analisis).
5.      Membuat kerangka laporan.
6.      Membuat deskripsi pelaksanaan.
7.      Menyusun laporan keuangan (terlampir)
8.      Melaporkan hasil evaluasi (peserta, pelatih dan penyelenggara)
9.      Melaporkan hambatan-hambatan.
10.  Memberikan saran dan rekomendasi.
11.  Memberi ucapan terimakasih.
12.  Lampiran-lampiran (kepanitiaan, keuangan, dokumentasi, dll)
E.     Teknik Follow Up
1.      Pertemuan berkala
2.      Kunjungan
3.      Surat menyurat
4.      Pengiriman bahan bacaan
5.      Karya wisata
6.      Menerima kunjungan tamu
7.      Memberi penghargaan dan kesempatan

4 komentar: