BAB I
PENDAHULUAN
A.
Mengapa Buku Ini Lahir ?
Lahirnya buku ini dilatarbelakangi oleh kurangnya referensi Mata
Kuliah Manajemen Pelatihan Dakwah, penulis sering kali diminta oleh mahasiswa
menulis buku mata kuliah tersebut. Selain untuk memudahkan perkuliahan, juga
untuk menambah referensi yang kini masih langka.
B.
Siapa Sasaran Buku Ini ?
Sesuai dengan bidangnya, buku ini merupakan literature bagi
mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, kkhususnya Jurusan Manajemen Dakwah,
yang secara latar belakang keilmuan menekuni bidang Tadbir. Dimana salah
satu kajiannya adalah mengkaji pengelolaan pelatihan dakwah ini.
C.
Cara Memahami Buku Ini
Beberapa sub bahasan yang terkategori ke dalam pra-pelatihan adalah
perencanaan pelatihan dan pengorganisasian pelatihan. Sedangkan bahasan yang
terkategori ke dalam pelaksanaan pelatihan : Pelaksanaan pelatihan dan
pengawasan pelatihan. Adapun yang termasuk pada pasca pelatihan : Evaluasi
pelatihan, pelaporan pelatihan dan follow up pelatihan.
Masing-masing bahasan di atas dipilah ke dalam tiap-tiap bab.
Dengan adanya pelatihan dakwah, diharapkan kegiatan dakwah tidak
akan ketinggalan oleh perubahan yang terjadi. Namun sebaliknya, diharapkan bisa
memotivasi, mengarahkan dan mengendalikan perubahan tersebut, agar senantiasa
sesuai dengan aturan dan nilai-nilai luhur Islam dan mengarah kepada semakin
makmurnya alam semesta dan semakin mulianya manusia disisi Allah SWT.
BAB II
DASAR-DASAR PELATIHAN DAKWAH
A.
Pengantar
Pelatihan dilakukan seiring dengan kehidupan yang terus berubah.
Perubahan yang terjadi, sebagian terjadi karena pertumbuhan alamiah. Seperti
perkembangan bayi,anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Demikian juga
seperti perubahan karena bencana alam dan sebagainya.
B.
Pengertian Manajemen Pelatihan Dakwah
Manajemen secara bahasa, berasal dari kata inggris to manage atau
Itali managio dari managiare, yang berarti melatih kuda-kuda,
atau mengendalikan ( to handle ) , serta dari bahasa Latin manus, yang
berarti tangan ( to handle ), menangani, mengurus, mengendalikan. Arti
lebih spesifik dari manage, yaitu to direct and control (membimbing
dan mengawasi), to treat with care (memperlakukan dengan seksama), to
carry on business or affairs ( mengurus perniagaan atau urusan) to
achieve one’s purpose ( mencapai tujuan tertentu).
Sedangkan manajemen sendiri berarti act or art managing;
conduct; control; direction (tindakan atau seni mengurus; memperlakukan;
pengawasan; pembimbingan). Dengan kata lain manajemen berarti proses kegiatan
yang dilakukan secara bersama untuk mencapai tujuan.
C.
Objek Kajian Manajemen Pelatihan Dakwah
Setiap ilmu memiliki objek material dan objek formal. Jika
ditelusuri, Manajemen Pelatihan Dakwah (MPD) memiliki objek material yaitu
perilaku manusia dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Sampai disini MPD
memiliki keserumpunan dengan manajemen pendidikan.
Sementara yang membedekan MPD dengan ilmu tersebut terdapat pada
objek formalnya, yaitu pengelolaan kegiatan. Sedangkan objek materialnya
pengelolaan kegiatan dalam meningkatkan keterampilan, mengubah pemahaman, sikap
dan perilaku sesuai dengan misi dakwah Islam.
D.
Tujuan Manajemen Pelatihan Dakwah
Pada prinsipnya tujuan MPD dapat digolongkan menjadi tiga kategori.
Pertama, terkelolanya upaya meningkatkan keterampilan. Pelatihan yang
diselenggarakan berkaitan dengan tujuan meningkatkan keterampilan para peserta
sehubungan dengan tugas yang harus diselesaikan. Kedua, terkelolanya upaya
meningkatkan sikap. Pelatihan yang diselenggarakan bertujuan untuk menghasilkan
perubahan yang diselenggarakan bertujuan untuk menghasilkan perubahan sikap
padadiri peserta. Ketiga, terkelolanya upaya meningkatkan pengetahuan Pelatihan
yang diselenggarakan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para peserta
latihan.
BAB III
PERENCANAAN PELATIHAN DAKWAH
A.
Merumuskan Tujuan Pelatihan Dakwah
Dalam bidang pelatihan, tujuan dan sasaran seringkali dicampurkan.
Padahal tujuan merupakan pernyataan terntang maksud secara umum. Sedangkan
sasaran lebih menyatakan tuntutan yang spesifik dan menunjukkan hasil yang akan
di capai melalui kegiatan pelatihan.
B.
Merumuskan Sasran Pelatihan Dakwah
Sasaran pelatihan dakwah merupakan sarana keberhasilan pelatihan.
Adanya sasaran pelatihan. Adanya sasran pelatihan mempunyai arti dan manfaat
dalam hal :
1.
Sebagai
dasar menentukan apa yang harus dilakukanoleh peserta selama mengikuti
pelatihan.
2.
Menjamin
konsistensi penyusunan program.
3.
Memudahkan
komunikasi antara penyusun program pelatihan dengan pihak yang berkepentingan.
4.
Merupakan
kerangka dari sesuatu program pelatihan.
5.
Membantu
fasilitator (pelatihan) memilih strategi untuk mencapai tujuan pelatihan.
6.
Memudahkan
pelatih didalam menyusun bahan penilaian terhadap kemajuan peserta selama
mengikuti pelatihan.
7.
Menghindari
kemajuan konflik penyelenggaraan program pelatihan dengan yang meminta program
pelatihan.
8.
Membantu
penyelenggara untuk menentukan program tindak lanjut daripada pelatihan.
BAB IV
PENGORGANISASIAN PELATIHAN DAKWAH
A.
Pengertian Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah proses penyusunan struktur organisasi
sesuai dengan tujuan-tujuannya, sumber-sumber dan lingkungannya. Organisasi
memiliki dua aspek.
1.
Struktur
organisasi, yaitu susunan komponen-komponen (unit kerja) dalam organisasi.
2.
Aspek
perilaku.
B.
Mengorganisasikan Kebutuhan Pelatihan Dakwah
Kebutuhan
pelatihan dakwah diantaranya :
1.
Merumuskan
kerangka acuan (TOR : term of refence ) latihan.
2.
Menggandakan
bahan-bahan latihan untuk peserta.
3.
Merancang
survey kebutuhan latihan (training need assement)
4.
Merancang
program latihan lanjut.
5.
Melaksanakan
dan menganalisis hasil survey latihan para calon peserta.
6.
Merumuskan
kebutuhan latihan lanjutan.
7.
Menyusun
panduan (manual) latihan.
8.
Menginventarisasi
dan mengidentifikasi calon peserta latihan.
9.
Memanggil/mengundang
calon peserta latihan.
10.
Mengurus
izin pelaksannan latihan.
11.
Mempersiapkan
fasilitas akomodasi peserta latihan.
12.
Mengatur
penempatan peserta di asrama/ lokasi pelatihan.
13.
Melaksanakan
acara latihan di ruang kelas latihan.
14.
Memantau
(monitoring) kegiatan tindak-lanjut pasca-latihan para peserta ditempat
masing-masing.
15.
Melaksanakan
rapat koordinasi tim pemandu/panitia untuk persiapan teknis acara latihan di
ruang kelas latihan.
16.
Menghubungi
narasumber luar yang dibutuhkan.
17.
Melakukan
acara kunjungan kerja sebagai perbandingan latihan hasil di kelas.
18.
Melakukan
evaluasi akhir latihan.
19.
Melaksanakan
acara Kontak Belajar (penentuan garis besar) materi, urutan/pola kegiatan serta
jadwal harian dan tata tertib latihan dengan para peserta.
20.
Menyusun
laporan proses pelaksanaan latihan.
BAB V
PELAKSANAAN PELATIHAN DAKWAH
A.
Tahapan Pelaksanaan Pelatihan Dakwah
Setelah diadakan check in peserta, pembagian bahan-bahan dan
penempatan penginapan peserta (jika kegiatan pelatihan dakwah perlu menginap),
maka rangkaian kegiatan pelaksanaan pelatihan dimulai. Diawali dengan
pembukaan, proses, dan penutupan.
B.
Macam-macam Metode Pelatihan
Berikut
macam-macam pelatihan partisipatif yang dapat dilakukan untuk orang dewasa .
1.
Metode
pemasaran (ice breaker)
2.
Metode
curah pendapat (Brainstorming)
3.
Metode
diskusi kelompok (DISCO)
4.
Metode
diskusi panel
5.
Metode
penguasaan
6.
Metode
kerja kelompok
7.
Metode
simulasi
8.
Metode
bermain peran
9.
Metode
demonstrasi
10.
Forum
11.
Jenis
cawan ikan (fish bowls)
12.
Jenis
pro kontra (debat)
13.
Jenis
rembuk sejati
14.
Jenis
momentum
15.
Jenis
urun pendapat (brainstorming method)
16.
Jenis
foto novellas
17.
Jenis
buzz group
18.
Jenis
pemeranan
19.
Pengalaman
berstruktur
C.
Membangun Pelatihan Dakwah Efektif
Pelaksanaan
pelatihan dapat dikatakan efektif apabila :
1.
Pelaksanaan
pelatihan selaras dengan kebutuhan peserta pelatihan
2.
Peserta
pelatihan merasakan bahwa dengan mengikuti pelatihan, kebutuhan yang dirasakan
terpenuhi.
3.
Peserta
tidak merasakan adanya tekanan dalam pelatihan.
4.
Peserta
dapat menarik kesimpulan sendiri dan mengolah sendiri isi pelatihan.
5.
Praktis
dalam penerapannya.
BAB VI
PENGAWASAN PELATIHAN DAKWAH
A.
Proses Pengawasan Pelatihan Dakwah
Pengawasan dalam pelatihan merupakan rangkaian dari perencanaan dan
pelaksanaan. Pengawasan dilakukan untuk melihat sejauh mana kesesuaian
perencanaan dengan jalannya pelaksanaan pelatihan.
Proses pengawasan dalam pelatihan terdiri dari tiga tahap, yaitu
menetapkan standar, pengukuran dan menentukan kesenjangan.
B.
Langkah Langka Pengambilan Keputusan untuk Tindakan Korektif
1.
Mengetahui
hakikat dari masalah yang dihadapi, mampu mendefinisikannya secara tepat;
2.
Mengumpulkan
fakta-fakta dan data yang relevan;
3.
Mengolah
fakta-fakta dan data-data tersebut;
4.
Menentukan
beberapa alternative yang mungkin di tempuh;
5.
Memilih
cara pemecahan dari alternative-alternatif yang mungkin di tempuh;
6.
Memutuskan
tindakan-tindakan korektif yang terbaik;
7.
Menilai
hasil-hasil yang diperoleh sebagai hasil dari tindakan korektif yang telah di
ambil.
C.
Pengawasan Efektif
Pengawasan sebaiknya fleksibel, sesuai dengan keperluan situasi dan
kondisi, dimana tindakan korektif harus diambil. Karena pengawasan bisa
memiliki implikasi pada emosional dan motivasional yang berkaitan dengan
fungsional dan disfungsional.
Dengan begitu, pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan
perbaikan, yang senantiasa membangkitkan motivasi. Tidak hanya mengungkap
penyimpangan dari standar, tetapi juga penyediaan alternative perbaikan dan
menentukan langkah-langkah strategis perbaikan.
BAB VII
EVALUASI PELATIHAN DAKWAH
A.
Pengertian Evaluasi Pelatihan Dakwah
Evaluasi atau penilaian berarti penentuan kemajuan pelatihan dakwah
dengan tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi pelatihan dakwah juga merupakan
suatu usaha untuk memperoleh informasi tentang hasil suatu program pelatihan
dakwah dan menentukan nilai dari sudut pandang informasi tersebut. Hal itu juga
berarti suatu proses menentukan, apakah telah ada kemajuan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan atau tidak.
B.
Tujuan Evaluasi Pelatihan Dakwah
Tujuan
evaluasi latihan adalah :
1.
Mendapatkan
dan menganalisa informasi untuk mengetahui pencapaian tujuan jangka pendek dan
jangka panjang pelatihan dakwah.
2.
Menemukan
bagian-bagian pelatihan dakwah mana yang berhasil mencapai tujuan, serta
bagian-bagian latihan mana yang kurang berhasil, sehingga dapat dibuat
langkah-langkah perbaikan.
3.
Untuk
mengetahui pengaruh program latihan terhadap efisiensi dan efektifitas
pelaksanaan tugas di lapangan.
4.
Untuk
mengetahui tingkat perubahan sikap serta tingkah laku peserta latihan.
5.
Memberi
kesempatan kepada peserta yang menyumbang saran-saran dan penilaian program
yang dijalankan.
6.
Untuk
menjadi alat pembantu dalam proses pelatihan dakwah.
C.
Manfaat Evaluasi Pelatihan Dakwah
Evaluasi
pelatihan dakwah memiliki banyak manfaat. Manfaat secara umum diantaranya :
1.
Memperoleh
informasi tentang kualitas dan kuamtitas hasil pelaksanaan program pelatihan
dakwah.
2.
Untuk
mengetahui relevansi program pelatihan dakwah dengan kebutuhan di lapangan.
3.
Membuka
kemungkinan untuk memperbaiki atau menyesuaikan program pelatihan dakwah dengan
perkembangan keadaan.
4.
Untuk
mengetahui apakah pelatihan dakwah bisa memerankan sebagai sebuah investasi.
5.
Untuk
menambah reputasi dan pengaruh bagi penyelenggara pelatihan dakwah.
6.
Untuk
mengetahui apakah kegiatan pelatihan dakwah perlu dilanjutkan.
BAB VIII
LAPORAN DAN FOLLOW UP PELATIHAN DAKWAH
A.
Pengertian Laporan
Laporan dapat diartikan sebagai salah satu alat untuk menyampaikan
informasi, baik lisan maupun tulisan, guna terjadinya hubungan yang baik antara
bawahan dengan atasan, atau sebagai salahsatu cara pelaksanaan komunikasi dari
satu pihak kepada pihak lain.
Laporan pada intinya dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang
apa (what) yang terjadi, dimana (where), kapan (when) dan
mengapa (why) hal itu terjadi. Selain itu juga untuk menggambarkan siapa
(who) yang bertanggungjawab atas semua itu.
B.
Fungsi Laporan Pelatihan Dakwah
Diantara
fungsi-fungsi tersebut adalah :
1.
Fungsi
pertanggungjawaban.
2.
Fungsi
penyampaian informasi.
3.
Bahan
pengambilan keputusan.
4.
Fungsi
alat kerjasama.
5.
Fungsi
alat memperluas ide pengalaman.
6.
Fungsi
alat memperluas ide dan pengalaman.
C.
Prinsip-prinsip Laporan Pelatihan Dakwah
Ada
sejumlah prinsip laporan dalam pelatihan dakwah tersebut, yaitu :
1.
Laporan
harus benar dan objektif.
2.
Laporan
harus jelas dan cermat.
3.
Lapran
harus langsung mengenai sasaran.
4.
Laporan
harus lengkap.
5.
Laporan
harus tegas dan konsisten.
6.
Laporan
harus tepat pada waktunya.
7.
Laporan
harus tepat penerimanya.
D.
Langkah-langkah Pembuatan Laporan Pelatihan Dakwah
Berikut
ini langkah-langkah penyusunan laporan yang dimaksud :
1.
Menentukan
subjek.
2.
Mengumpulkan
data dan fakta.
3.
Mengklasifikasikan
data.
4.
Evaluasi
dan pengolahan (analisis).
5.
Membuat
kerangka laporan.
6.
Membuat
deskripsi pelaksanaan.
7.
Menyusun
laporan keuangan (terlampir)
8.
Melaporkan
hasil evaluasi (peserta, pelatih dan penyelenggara)
9.
Melaporkan
hambatan-hambatan.
10.
Memberikan
saran dan rekomendasi.
11.
Memberi
ucapan terimakasih.
12.
Lampiran-lampiran
(kepanitiaan, keuangan, dokumentasi, dll)
E.
Teknik Follow Up
1.
Pertemuan
berkala
2.
Kunjungan
3.
Surat
menyurat
4.
Pengiriman
bahan bacaan
5.
Karya
wisata
6.
Menerima
kunjungan tamu
7.
Memberi
penghargaan dan kesempatan
mantap teh hida... :')
BalasHapusjoos...
BalasHapusBoleh saya minta referensi buku ini kak
BalasHapusTERIMAKASIH
BalasHapus